AtTaubah : 111) Di dalam Taurat dan Injil terdapat janji Allah bahwa orang-orang yang beriman itu akan diberikan surga. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Jakarta - Ajaran yang sama dan tertuang dalam semua kitab Allah SWT adalah tentang tauhid atau perintah mengesakan Allah SWT. Meskipun Allah mewahyukan empat kitabNya melalui para rasul pada zaman yang berbeda-beda, ajaran tentang tauhid masih terus diajarkan sampai saat dari seluruh kitab suciNya hanya terletak pada hal syariat. Perihal ini disesuaikan dengan zaman dan keadaan umat pada waktu itu sebagaimana yang dilansir dari situs Sumber Belajar Kemdikbud. "Kitab-kitab Allah SWT diturunkan pada masa yang zamannya berbeda-beda. Semua kitab tersebut berisi ajaran pokok yang sama, yaitu ajaran mengesakan Allah SWT tauhid," tulis Kemdikbud yang dikutip Senin, 20/9/2021.Kitab-kitab yang diturunkan ini pada umumnya berisi tentang peraturan, ketentuan, perintah, dan larangan yang harus dijadikan pedoman hidup bagi manusia. Sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun tentang tauhid yang termaktub dalam semua kitab Allah SWT dapat kita lihat dalam isi ajaran pokok tiap kitab suci berikut ini. detikEdu merangkumnya dari buku Dasar-dasar Memahami Iman, Islam, dan Ihsan yang ditulis oleh Ipnu R. Kitab Suci Allah SWT dan Isi Ajaran Pokoknya1. Kitab TauratKitab ini diturunkan Allah kepada Nabi Musa sebagai pedoman hidup bagi Bani Israil. Sebagaimana diketahui, saat itu Firaun menganggap dirinya sebagai 10 perintah yang kemudian dikenal dengan istilah Ten Commandments dalam kitab Taurat. Isi pokok ajarannya yakniHormati dan cintai satu Allah tauhidSebutlah nama Allah dengan hormatKuduskanlah hari TuhanHormati ibu dan bapakmuJangan membunuhJangan bercabulJangan mencuriJangan berdustaJangan ingin berbuat cabulJangan ingin memiliki barang orang lain dengan cara yang tidak halal2. Kitab ZaburKitab Zabur diturunkan melalui Nabi Daud. Kondisi saat itu, Nabi Daud dan pengikutnya harus melawan Raja Thalut yang sombong. Beberapa kandungan dalam kitab ini di antaranyaAjaran mengesakan Allah SWT tauhidKata-kata hikmahNasihat-nasihat kebaikan3. Kitab InjilKitab Injil adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa. Pada umumnya, isi kitab ini berisikan ajakan kepada umat Nabi Isa untuk menjauhi sikap tamak. Kandungan yang terdapat dalam Kitab Injil yakniAjaran tauhidHukum-hukum syariatNasihat-nasihat kebaikanSejarah nabi-nabi terdahulu4. Al QuranKitab inilah yang wajib dijadikan pedoman oleh umat muslim saat ini, Al Quran. Al Quran diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai penutup bagi para nabi. Salah satu kandungan Al Quran yang menjelaskan tentang keesaan Allah SWT yakni surat Al Ikhlas ayat 1-4,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌBacaan latin qul huwallāhu aḥadArtinya "Katakanlah Muhammad, "Dialah Allah, Yang Maha Esa."اللَّهُ الصَّمَدُBacaan latin allāhuṣ-ṣamadArtinya "Allah tempat meminta segala sesuatu."لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْBacaan latin lam yalid wa lam yụladArtinya "Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan."وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌBacaan latin wa lam yakul lahụ kufuwan aḥadArtinya "Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."Oleh sebab itu, umat muslim diwajibkan untuk meyakini bahwa Allah SWT mempunyai kitab yang telah diturunkan kepada para rasulNya. Allah telah berfirman melalui surat An Nisa ayat 136 yang berbunyi,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًاArtinya "Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada kitab Al Quran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya."Jadi, pertanyaan tentang ajaran yang sama dan tertuang dalam semua kitab Allah sudah terjawab bukan? Selamat membaca juga 'Pesan Menag di Tahun Baru Islam, Perkuat Spirit Hijrah Atasi Pandemi'[GambasVideo 20detik] rah/erd
Selainmemuat keterangan mengenai perintah untuk meng-Esakan Allah, Kitab Injil juga menjelaskan akan lahir nabi terakhir yang menutup para nabi dan rasul bernama Ahmad atau Muhammad SAW. Injil sudah mengalami perubahan dan penggantian yang dilakukan oleh manusia.
Daftar isi1 Apa Penyebab Kitab Taurat dan Injil itu mengalami perubahan dan tambahan?2 Apakah kegunaan Kitab Taurat bagi bangsa Bani Israil?3 Siapa yang menulis Kitab Kejadian?4 kitab Taurat berisi berapa?5 Apa Pengertian dan Isi Kitab Zabur?6 Diperuntukan untuk siapa kitab Taurat? Penyebab terjadinya perubahan pada kitab taurat dan injil itu kemungkinan besar dikarenakan oleh ketidak senangan para orang-orang kafir terhadap kebenaran yang diturunkan oleh sang khaliq. Apakah kegunaan Kitab Taurat bagi bangsa Bani Israil? Jawaban. Jawaban Fungsi Kitab Tauratyaitu Sebagai petunjuk bagi Nabi Musa dan bagi Bani Israil untuk beriman kepada Allah swt. Di tradisi Yahudi dan Kristiani, dikatakan bahwa Kitab Kejadian ditulis oleh Musa, begitupula Kitab Keluaran, Imamat, dan sebagian besar isi dari Kitab Ulangan. Kitab apa saja yang sudah mengalami perubahan dan pergantian yang dilakukan oleh tangan manusia adalah? Injil sudah mengalami perubahan dan penggantian yang dilakukan oleh manusia. Kitab Injil yang sekarang lebih memuat tulisan dan catatan tentang sejarah hidup Nabi Isa AS. Kitab ini ditulis menurut versi penulisnya, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yahya Yohana. Mengapa Allah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul? Allah menurunkan kitab-kitab samawi agar tegaknya kebenaran di antara manusia. Setiap orang mengambil haknya dengan benar, dan tak ada yang menganiaya satu sama lain, karena kitab-kitab itu merupakan rujukan untuk meraih pahala dan menjalankan kewajiban. kitab Taurat berisi berapa? Berikut ini penjelasannya. Diketahui, Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa As dan berisi sepuluh pokok perintah atau peraturan yang dikenal juga dengan nama The Ten Commandments. Apa Pengertian dan Isi Kitab Zabur? Kitab Zabur ditulis dalam bahasa Qibti. Kitab ini berisikan 150 nyanyian rohani dalam bahasa Arab disebut mazmur dari Nabi Daud AS. Secara garis besar Zabur berisi pengalaman yang terjadi pada Nabi Daud AS. Di antaranya pengakuan dosa dan pengampunan dari Allah SWT, kemenangan atas musuh, dan kemuliaan-kemuliaan. Diperuntukan untuk siapa kitab Taurat? Sama seperti dua kitab sebelumnya, Taurat juga diperuntukkan bagi Bani Israil. Nabi Musa AS hiduo di Mesir, Madyan, dan Sinai sekitar abad ke-14 SM. kitab Taurat adalah kitab agama apa? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, injil merupakan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa, salah satu bagian dari kitab suci Agama Kristen. Zabur dan Taurat untuk agama apa? Al-Kitab adalah kitab suci agama Kristen yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Zabur dan Injil ada didalamnya.
Hanyasaja Injil pun senasib dengan Taurat, yakni sudah mengalami perubahan dan penggantian yang dilakukan oleh tangan manusia. Kitab Injil yang sekarang memuat tulisan dan catatan perihal kehidupan atau sejarah hidupnya Nabi Isa as. Kitab ini ditulis menurut versi penulisnya, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yahya (Yohana). 4. Kitab Al-Quran
Penyebab terjadinya perubahan pada kitab taurat dan injil itu kemungkinan besar dikarenakan oleh ketidak senangan para orang-orang kafir terhadap kebenaran yang diturunkan oleh sang khaliq. Yang membedakan satu waktu dengan yang lainnya adalah peristiwa-peristiwa dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya," tulis KH Jeje dalam bukunya "Seputar Masalah Puasa, Itikaf, Lailatul Updated on 20 Agustus 2010 by muhammadqosim Allah subhanahu wata’ala berfirman وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَلْوُوْنَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ “Sesungguhnya ada segolongan di antara mereka yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu mengira yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan Ini yang dibaca itu datang dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” Ali Imran 78 lihat pembahasan tafsirnya disini يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ لاَ يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِيْنَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوْبُهُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ هَادُوا سَمَّاعُوْنَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُوْنَ لِقَوْمٍ آخَرِيْنَ لَمْ يَأْتُوْكَ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُوْلُوْنَ إِنْ أُوْتِيْتُمْ هَذَا فَخُذُوْهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَنْ يُرِدِ اللهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِيْنَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوْبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ “Hai Rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera memperlihatkan kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka Kami telah beriman’, padahal hati mereka belum beriman; dan juga di antara orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi itu amat suka mendengar berita-berita bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan Taurat dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan Jika diberikan ini yang sudah diubah-ubah oleh mereka kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.’ Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” Al-Maidah 41 Kitab Taurat dan Injil Telah Berubah Allah subhanahu wata’ala tidak memberikan jaminan penjagaan atas kalam-Nya yang termaktub dalam kitab Taurat dan Injil, sebagaimana jaminan penjagaan yang diberikan-Nya kepada Al-Qur-an إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikra Al-Qur-an dan sungguh Kamilah yang akan menjaganya.” Al-Hijr 9 Karena penjagaan ini maka Al-Qur`an selama-lamanya tidak akan dapat dipalsukan sampai kalamullah itu diangkat kembali dari lembaran dan dada-dada manusia dari hapalan mereka menjelang hari kiamat. Adapun kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil tidaklah selamat dari pemalsuan sehingga wajar bila kita katakan kitab-kitab yang dipegang ahlul kitab telah dipalsukan para rahib dan pendeta mereka dari aslinya. Ini berdasarkan pengabaran Allah subhanahu wata’ala sendiri melalui Al-Qur`an, dari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dari atsar dan juga dari bukti-bukti sejarah serta pertentangan dan keganjilan-keganjilan yang ada di dalam Taurat dan Injil sendiri. Di dalam Al-Qur`an, Allah subhanahu wata’ala mengabarkan bahwa ahlul kitab telah mengubah-ubah kitab mereka yang tadinya merupakan kalamullah yang diturunkan dari atas langit, namun kemudian karena ulah para pendeta Yahudi dan Nasrani bercampurlah kalamullah tersebut dengan kalam manusia. Bahkan kalamullah itu sendiri mereka ubah dan dipindahkan dari tempatnya, sehingga kitab mereka tidak lagi murni sebagaimana diturunkan pada awalnya, tetapi tercampur dengan kepalsuan dan kedustaan, dan susah untuk dipisahkan mana yang haq dan mana yang batil. Allah subhanahu wata’ala berfirman فَوَيْلٌ لِلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُوْنَ Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya “Ini dari Allah”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” Al-Baqarah 79 [1] Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata “Yang Allah maksudkan dengan firman-Nya ini adalah orang-orang Yahudi Bani Israil yang telah melakukan tahrif atas Kitabullah. Dan mereka menulis sebuah kitab berdasarkan penakwilan/ penafsiran menyimpang yang mereka buat, menyelisihi dengan apa yang Allah subhanahu wata’ala turunkan kepada Nabi Musa alaihissalam. Kemudian orang-orang Yahudi ini menjual kitab karangan mereka itu kepada suatu kaum yang tidak memiliki ilmu tentang penakwilan tersebut, tidak pula memiliki pengetahuan dengan apa yang terdapat dalam Taurat, dan kepada orang-orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang terdapat dalam kitabullah. Mereka, orang-orang Yahudi melakukan hal ini, karena ingin mendapatkan dunia yang rendah.” Jami’ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur`an 1/422 Allah subhanahu wata’ala berfirman مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوا يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ “Mereka orang-orang Yahudi mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” An-Nisa 46 Ayat di atas menunjukkan bahwa sifat orang-orang Yahudi itu suka mengganti dan mengubah-ubah makna Taurat dari tafsir yang sebenarnya. Jamiul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur`an 4/121 Perubahan yang mereka lakukan itu bisa berupa lafadz atau maknanya, atau keduanya sekaligus. Mereka mengubah hakikat yang ada, menempatkan al-haq di atas al-batil, dan menentang al-haq itu. Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 181 Sejarah Perubahan Taurat Dalam kitabnya Al-Fishal fil Milal wal Ahwa` wan Nihal, Ibnu Hazm rahimahullah menyebutkan secara panjang lebar sejarah Bani Israil sejak wafatnya Nabi Musa alaihissalam untuk membuktikan bahwa kitab Taurat tidak lagi asli tetapi telah diubah-ubah. Disebutkan bahwa sepeninggal Nabi Musa alaihissalam, Bani Israil dipimpin Yusya’ bin Nun selama 31 tahun dengan tetap istiqamah berpegang dengan agama. Kemudian mereka dipimpin Fainuhas ibnul Azar bin Harun selama 25 tahun, juga masih istiqamah di atas agama. Setelah wafatnya Fainuhas, seluruh Bani Israil murtad dari agama mereka dan menyembah berhala secara terang-terangan. Dan sejak itu mereka dipimpin penguasa-penguasa kafir, meski terkadang diselingi kepemimpinan penguasa yang beriman. Namun tetap lebih dominan dikuasai penguasa kafir dan yang berkubang dalam kekafiran dan penyembahan terhadap berhala. Al-Fishal fil Milal wal Ahwa` wan Nihal, 1/ 213-215 Al-Allamah Asy-Syaikh Rahmatullah bin Khalilur Rahman Al-Kairanawi Al-Hindi rahimahullah menyebutkan beberapa bukti bahwa kitab Taurat dan Injil yang ada sekarang bukanlah Taurat dan Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa alaihissalam. Di antaranya, beliau menyebutkan fakta sejarah berkenaan dengan Taurat bahwasanya Taurat yang ada sekarang terputus sanadnya sebelum zaman raja Yusya’ bin Amun yang berkuasa pada tahun 638 SM. Sedangkan nuskhah manuskrip bertuliskan Taurat yang didapatkan setelah 18 tahun ia berkuasa, tidak bisa dijadikan sandaran. Karena nuskhah itu dibuat-buat oleh Al-Kahin Hilqiyya. Selain tidak bisa dijadikan sandaran, secara umum nuskhah itu hilang sebelum Bukhtanashar menaklukkan negeri Palestina pada tahun 587 SM. Seandainya kita anggap nuskhah itu tidak hilang, maka ketika Bukhtanashar menguasai Palestina niscaya ia akan memusnahkan Taurat dan seluruh kitab Perjanjian Lama sehingga tidak tersisa bekasnya. Orang-orang Yahudi berdalih bahwa Uzara telah menulis sebagian lembaran-lembaran Taurat di Babil, namun yang ditulisnya ini pun hilang ketika Anthaikhus IV menaklukkan negeri Palestina. Ketika Suraya berkuasa antara tahun 175-163 SM, ia berencana memusnahkan agama Yahudi dan mewarnai Palestina dengan ajaran Hailainiyyah Helenisme Yunani. Ia pun menjual jabatan-jabatan pendeta Yahudi, membunuh sejumlah 40 hingga 80 juta pendeta Yahudi, merampas barang-barang yang ada di seluruh tempat ibadah Yahudi, bertaqarrub kepada sesembahannya dengan menyembelih babi dan menyalakan api di atas tempat penyembelihan orang Yahudi, serta memerintahkan 20 ribu tentara untuk mengepung Al-Quds yang akhirnya menyerbu Al-Quds pada hari Sabtu ketika orang-orang Yahudi berkumpul untuk mengerjakan shalat. Mereka merampas Al-Quds, meruntuhkan rumah dan pagar-pagar, menyalakan api di dalamnya serta membunuh semua orang yang ada di dalamnya sampaipun para wanita dan anak-anak. Tidak ada yang selamat pada hari itu kecuali orang yang lari ke gunung-gunung atau bersembunyi dalam gua-gua.” Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hal. 20-21 Ibnu Hazm rahimahullah berkata “Sejak Bani Israil masuk ke tanah yang disucikan Palestina sepeninggal Musa alaihissalam sampai masa pemerintahan raja mereka Syawul, sebanyak tujuh kali mereka meninggalkan keimanan dan terang-terangan menyembah berhala.” Beliau rahimahullah juga berkata “Perhatikanlah, kitab apa yang masih tertinggal bersama dengan kekufuran yang terus menerus dan menolak keimanan selama masa yang panjang lebih dari 114 tahun-red di sebuah negeri yang kecil. Sementara tidak ada seorang pun di muka bumi ketika itu yang berada di atas agama mereka dan mengikuti kitab mereka selain mereka sendiri.” Al-Fishal 1/215 Contoh Penyimpangan Taurat dan Injil Ibnul Qayyim melanjutkan “Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi di dalamnya terdapat tambahan, perubahan/ penyimpangan dan pengurangan yang kentara bagi orang-orang yang mendalam ilmunya. Dan mereka ahlul ilmi yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Taurat yang Allah turunkan kepada Musa alaihissalam. Demikian pula Injil yang berada di tangan orang-orang Nasrani. Di dalamnya terdapat tambahan, perubahan/ penyimpangan dan pengurangan yang tidak bisa disembunyikan dari orang-orang yang ilmunya dalam. Dan mereka yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Injil yang Allah subhanahu wata’ala turunkan kepada Al-Masih `Isa alaihissalam.” Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara, hal. 101 Demikian pula keberadaan Injil yang dipegangi orang-orang Nasrani. Jauh ditulis setelah diangkatnya Nabi Isa alaihissalam, baik itu Injil yang konon katanya ditulis oleh Yohanes yang kemudian disebut Injil Yohanes, Injil Markus, Injil Lukas maupun Injil Matius. Cukuplah keberadaan empat Injil ini yang masing-masing isinya terdapat pertentangan, sebagai bukti ketidakotentikan Injil tersebut. Dan Injil-Injil itu bukanlah Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Isa alaihissalam. Berikut ini kami sebutkan beberapa contoh kedustaan yang terdapat dalam Taurat. Menyekutukan Allah dengan Adam Di dalam Taurat dihikayatkan bahwa Allah subhanahu wata’ala berfirman “Ini Adam, ia telah menjadi seperti salah satu dari Kami dalam mengetahui kebaikan dan kejelekan….” Ibnu Hazm menyatakan dengan ucapan ini menunjukkan mereka meyakini ilaah atau sesembahan itu lebih dari satu dan Adam termasuk ilaah tersebut.Al-Fishal 1/146 Mengatakan Allah mempunyai Anak Disebutkan pula dalam Taurat “Ketika manusia telah banyak memenuhi muka bumi dan lahir putri-putri Adam. Maka saat putra-putra Allah melihat putri-putri Adam yang cantik-cantik, putra-putra Allah pun memperistri sebagian dari mereka.” Ibnu Hazm membantah kedustaan mereka ini dengan menyatakan bahwa ucapan tersebut adalah kedunguan dan kedustaan yang besar, di mana Allah dijadikan memiliki anak laki-laki yang menikahi putri-putri Adam, yang berarti Allah dan Adam berbesanan. Maha Suci Allah dari kedustaan ini. Al-Fishal 1/147 Menghina Para Nabi Selain itu di dalam Taurat yang mereka pegangi disebutkan bahwa Nabi Luth alaihissalam digauli dua putrinya secara bergantian setelah beliau yang telah renta dibuat mabuk dengan diminumi khamr. Sehingga kedua putrinya hamil dari hasil hubungan dengan ayahnya. Na’udzubillah dari tuduhan keji mereka yang membuat gemetar kulit orang-orang yang beriman yang mengetahui hak-hak para nabi. Al-Fishal 1/161 Terdapat banyak versi Taurat dan Injil yang saling bertentangan Ibnul Qayyim rahimahullah mendustakan ucapan orang-orang Yahudi bahwa lembaran-lembaran yang bertuliskan Taurat saling mencocoki baik yang ada di belahan bumi timur maupun barat. Ibnul Qayyim berkata “Ini adalah kedustaan yang nyata, karena Taurat yang berada di tangan orang-orang Nasrani menyelisihi/ berbeda dengan Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi, dan juga Taurat yang ada di tangan Samiri berbeda pula dengan keduanya. Demikian pula Injil, sebagiannya berbeda dengan yang lain dan saling bertentangan.” Mengubah Ciri-Ciri Rasulullah dalam Taurat Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah menyebutkan bahwa pendeta-pendeta Yahudi itu khawatir kehilangan sumber penghidupan dan kepemimpinan mereka ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah. Mereka lalu melakukan tipu daya untuk menyimpangkan orang-orang Yahudi dari beriman kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka telah memahami sifat/ ciri-ciri beliau shallallahu alaihi wasallam yang tersebut dalam Taurat, di mana disebutkan bahwa beliau memiliki wajah dan rambut yang bagus, kedua matanya seperti bercelak, perawakannya sedang tidak terlalu tinggi tidak pula pendek. Mereka lalu kemudian mengubah sifat-sifat tersebut dan menggantinya dengan sifat tinggi, miring matanya, dan keriting rambutnya. Bila orang-orang bodoh yang tidak mengerti Taurat bertanya tentang sifat/ ciri-ciri nabi yang terakhir kepada para pendeta ini, mereka pun membacakan apa yang telah mereka tulis, sehingga orang-orang bodoh tersebut menjumpai sifat/ ciri-ciri nabi yang akhir itu berbeda dengan sifat/ ciri Nabi shallallahu alaihi wasallam. Akibatnya mereka pun mendustakannya. Ma’alimut Tanzil, 1/54-55 Masih terdapat Ayat-Ayat Allah yang Asli dan Taurat dan Injil Namun adanya perubahan tersebut bukan berarti bahwa semua yang terdapat dalam kitab Taurat ataukah Injil telah mengalami perubahan secara keseluruhan. Bahkan di dalam keduanya itu masih banyak terdapat ayat-ayat yang merupakan teks asli dari kitab Allah subhanahu wata’ala, yang jika seseorang Nasrani atau Yahudi mengimani ayat-ayat tersebut dengan keimanan yang sebenar-benarnya, niscaya mereka akan beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berupa wahyu Al-Qur`an Al-Karim. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau berkata “Demikian pula dikatakan jika lafadz-lafadz khabar diubah sedikit, tidaklah mencegah bahwa kebanyakan lafadznya tidak terjadi perubahan. Apalagi jika di dalam Al-Kitab itu sendiri ada yang menunjukkan sesuatu yang telah diubah itu. Dan dikatakan pula bahwa apa-apa yang telah diubah dari lafadz-lafadz Taurat dan Injil, maka dalam Taurat dan Injil itu sendiri ada yang menjelaskan sesuatu yang telah berubah tersebut.” Lalu beliau melanjutkan perkataannya “Sesungguhnya, perubahan yang ada hanya sedikit dan kebanyakannya tidak berubah. Dan pada yang tidak berubah terdapat lafadz-lafadz yang jelas dan sangat nampak maksudnya yang menjelaskan kesalahan yang menyelisihinya, dan memiliki penguat-penguat yang banyak yang membenarkan sebagian terhadap sebagian yang lainnya. Berbeda dengan sesuatu yang telah berubah, sesungguhnya lafadznya sedikit dan nash-nash Al-Kitab membantahnya. Sehingga Al-Kitab ini berkedudukan seperti kitab-kitab hadits yang dinukil dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, di mana terdapat beberapa hadits yang lemah di dalam Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, atau selainnya. Maka dalam hadits-hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam ada yang menjelaskan lemahnya riwayat tersebut. Bahkan di dalam Shahih Muslim terdapat sedikit lafadz yang keliru, yang mana hadits-hadits yang shahih bersama Al-Qur`an ada yang menjelaskan kekeliruan tersebut. Seperti apa yang diriwayatkan bahwa Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu dan menjadikan penciptaan makhluk dalam tempo tujuh hari, di mana hadits ini telah dijelaskan para imam ahli hadits seperti Yahya bin Ma’in, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Bukhari dan selainnya bahwa hadits ini keliru, dan bahwa itu bukan dari perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bahkan Al-Bukhari menjelaskan dalam Tarikh Kabir bahwa ini adalah perkataan Ka’b Al-Ahbar, sebagaimana telah dirinci pada pembahasannya. Dan Al-Qur`an juga menunjukkan kesalahan ini dan menjelaskan bahwa penciptaan terjadi selama enam hari. Dan telah terdapat dalam hadits shahih bahwa akhir penciptaan pada hari Jum’at, maka awal penciptaan terjadi pada hari Ahad. Demikian pula yang diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat kusuf gerhana dengan dua atau tiga ruku’, maka sesungguhnya yang tsabit dan mutawatir dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam dua kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim dan selainnya dari hadits Aisyah, Ibnu Abbas, Abdullah bin Amr, dan yang lainnya bahwa beliau shalat pada satu rakaat dengan dua ruku’. Oleh karenanya Al-Imam Al-Bukhari tidak mengeluarkan hadits lain kecuali hadits ini.” Lalu beliau berkata lagi “Demikian pula jika terjadi perubahan pada sebagian lafadz kitab-kitab terdahulu, maka dalam kitab itu sendiri ada yang menjelaskan kekeliruannya. Dan telah kami jelaskan bahwa kaum muslimin tidaklah mengklaim bahwa seluruh salinan Al-Kitab yang ada di dunia dari zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan setiap bahasa dari Taurat, Injil, dan Zabur telah diubah lafadz-lafadznya. Sesungguhnya saya tidak mengetahui ada yang mengucapkan demikian baik dari ulama salaf, meskipun dari kalangan mutaakhirin orang belakangan bisa jadi ada yang mengatakannya. Sebagaimana di kalangan umat belakangan ada yang membolehkan ber-istinja bersuci dengan setiap salinan Taurat dan Injil yang ada di dunia. Maka ucapan ini dan yang semisalnya bukanlah ucapan pendahulu dan para imam umat ini.” Daqa`iq At-Tafsir, 2/57-59. Lihat pula Al-Jawab Ash-Shahih Liman Baddala Dinal Masih, 2/442-444 Sikap Seorang Muslim terhadap Berita-berita Ahlul Kitab Berita-berita yang datang dari ahlul kitab, Yahudi ataupun Nasrani, yang tidak ada keterangannya dalam syariat kita, tidak boleh kita pastikan kebenarannya kemudian kita benarkan. Atau memastikan kedustaannya kemudian kita pun mendustakannya. Karena berita itu bisa jadi benar atau haq dan bisa jadi dusta atau batil. Jika kita benarkan dikhawatirkan itu adalah batil dan bila kita dustakan khawatirnya itu adalah haq. Sehingga dua keadaan ini bisa menjatuhkan kita ke dalam dosa. Shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَؤُوْنَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُوْنَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لأَهْلِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْ ، وَقُوْلُوْا {آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا …} الآية البقرة 136 Adalah ahlul kitab mereka membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan mereka menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang-orang Islam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Janganlah kalian membenarkan ahlul kitab dan jangan pula mendustakannya, dan katakanlah “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan pada kami….” HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4485 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata ketika menjelaskan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْJanganlah kalian membenarkan ahlul kitab dan jangan pula mendustakannya “Yakni apabila berita yang mereka kabarkan itu masih mengandung ihtimal kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Sehingga jangan sampai perkaranya benar namun kalian mendustakannya atau perkaranya dusta namun kalian membenarkannya, dan kalian pun terjatuh dalam dosa. Dan tidak ada larangan mendustakan mereka dalam perkara yang memang syariat kita menyelisihinya dan tidak pula ada larangan untuk membenarkan mereka dalam perkara yang disepakati syariat kita, demikian penjelasan Al-Imam Asy-Syafi`i.” Fathul Bari 8/214 Asy-Syaikh Rahmatullah Al-Hindi berkata “Kitab samawi yang diturunkan dari langit yang wajib kita terima adalah kitab yang ditulis dengan perantara salah seorang nabi, dan sampai kepada kita dengan sanad yang bersambung tanpa ada perubahan dan penggantian. Adapun kitab yang disandarkan kepada seseorang yang memiliki ilham dengan semata-mata persangkaan dan dugaan, tidaklah cukup untuk menetapkan bahwa kitab tersebut merupakan karya orang itu, sekalipun misalnya ada satu atau beberapa kelompok mengaku-aku penyandaran tersebut. Tidakkah engkau lihat bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama yang disandarkan kepada Musa, Uzra, Isy’aya`, Irmiya dan Sulaiman, tidaklah tsabit benar dengan satu dalil pun yang menunjukkan keshahihan penyandarannya kepada mereka, karena hilangnya sanad yang bersambung atas kitab-kitab tersebut. Dan juga tidakkah engkau lihat bahwa kitab-kitab dari Perjanjian Baru yang lebih dari 70 buah disandarkan kepada Isa, Maryam, Hawariyyun dan pengikut mereka. Kelompok-kelompok Nasrani yang ada sekarang telah sepakat tentang ketidakshahihan penyandaran kitab-kitab tersebut kepada Isa dan lainnya. Bahkan kitab-kitab itu termasuk kedustaan yang dibuat-buat. Kemudian ada kitab yang wajib diterima menurut penganut Katholik, namun wajib ditolak menurut orang-orang Yahudi dan penganut Protestan….” Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, Dengan demikian semakin pastilah dari fakta-fakta yang ada bahwa kitab-kitab yang dipegangi Yahudi dan Nasrani bukanlah Taurat dan Injil yang disebutkan dalam Al-Qur`anul Karim, sehingga tidak wajib untuk kita terimanya. Namun kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut ditempatkan sebagai berikut 1. Setiap riwayat yang terdapat di dalamnya bila dibenarkan oleh Al-Qur`anul Karim maka riwayat tersebut diterima dengan yakin, kita benarkan tanpa rasa berat. 2. Namun bila didustakan Al-Qur`an maka kita tolak dengan yakin, kita dustakan tanpa keberatan. 3. Bila Al-Qur`an mendiamkannya, tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan maka kita pun mendiamkannya, yakni kita tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan. Al-Qur`anul Karim adalah penjaga bagi kitab-kitab sebelumnya, yakni Al-Qur`an menampakkan al-haq yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya dan mendukungnya, serta menampakkan kebatilan yang ada di dalam kitab-kitab tersebut dan menolaknya. Bantahan ulama Islam atas Taurat dan Injil serta menampakkan kedustaan serta perubahan yang ada di dalamnya, tidaklah ditujukan kepada Taurat dan Injil yang diturunkan Allah kepada Musa dan Isa alaihimussalam. Namun yang mereka bantah adalah kisah dan riwayat-riwayat yang dikumpulkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sepanjang beberapa kurun, di mana orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan bahwa itu adalah wahyu dan ilham. Sungguh Taurat yang Allah turunkan kepada Musa hanya satu dan Injil yang Allah turunkan kepada Isa hanya satu pula. Lalu bagaimana bisa didapatkan sekarang ini ada tiga Taurat yang berbeda dan ada empat Injil yang juga berbeda?” Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hal. 35-37 Peringatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Membaca Buku-buku Ahlul Kitab Rasulullah melarang Umar membaca Taurat Shahabat yang mulia bernama Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu menuturkan أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أهل الْكُتُبِ. فَقَرَأَهُ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا، يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي “Umar ibnul Khaththab radhiyallhu anhu datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari sebagian ahlul kitab. Nabi shallallahu alaihi wasallam pun membacanya lalu beliau marah seraya bersabda “Apakah engkau termasuk orang yang bingung [2], wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka ahlul kitab, sehingga mereka mengabarkan al-haq kebenaran kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihissalam masih hidup niscaya tidaklah melapangkannya kecuali dengan mengikuti aku.” HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 3/387 dan Ad-Darimi dalam muqaddimah kitab Sunan-nya no. 436. Demikian pula Ibnu Abi Ashim Asy-Syaibani dalam kitabnya As-Sunnah no. 50. Hadits ini dihasankan oleh imam ahlul hadits di jaman ini Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani v dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As-Sunnah dan Irwa`ul Ghalil no. 1589. Dalam riwayat Ad-Darimi hadits di atas datang dengan lafadz أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى رَسُوْلَ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِِنُسْخَةٍ مِنَ التَّوْرَاةِ، فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ هذِهِ نُسْخَةٌ مِنَ التَّوْرَاةِ. فَسَكَتَ، فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَوَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَغَيَّرُ. فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ ثَكِلَتْكَ الثَّوَاكِلُ ، مَا تَرى مَا بِوَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَنَظَرَ عُمَرُ إِلَى وَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ غَضَبِ اللهِ وَغَضَبِ رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِحُمَّدٍ نَبِيًّا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ بَدَالَكُم مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِي، لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ، وَلَو كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لاَتَّبَعَنِيْ Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan membawa salinan dari kitab Taurat. Ia berkata “Ya Rasulullah, ini salinan dari kitab Taurat.” Rasulullah n diam, lalu mulailah Umar membacanya dalam keadaan wajah beliau n berubah. Melihat hal itu Abu Bakar berkata kepada Umar “Betapa ibumu kehilangan kamu [3], tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Umar melihat wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ia menangkap perubahan tersebut, maka ia berkata “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan RasulNya. Kami ridha Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihissalam muncul kepada kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus. Seandainya Musa masih hidup dan ia menemui masa kenabianku, niscaya ia akan mengikutiku.” Karena bercampurnya al-haq dengan al-batil inilah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingkari perbuatan Umar radhiyallhu anhu yang memegang Taurat. Di samping itu, apa yang datang dalam syariat agama yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sudah sangat memadai sehingga umat beliau tidak lagi membutuhkan syariat agama lain atau syariat umat terdahulu. Umat ini tidak lagi butuh nabi dan rasul lain setelah diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di tengah mereka. Kalaupun para nabi dan rasul terdahulu, sebelum Muhammad shallallahu alaihi wasallam, masih hidup dan menemui masa kenabian beliau, niscaya para nabi dan rasul tersebut akan mengikuti beliau dan tunduk pada syariat yang beliau bawa. Shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang membaca Kitab Terdahulu • Diriwayatkan bahwa Kab Al-Ahbar pernah datang menemui Umar ibnul Khaththab radhiyallhu anhu, yang ketika itu menjabat sebagai Amirul Mukminin, dengan membawa sebuah mushaf, ia berkata “Wahai Amirul Mukminin, dalam mushaf ini tertulis Taurat, apakah aku boleh membacanya?” Umar menjawab “Jika memang engkau yakin itu adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa alaihissalam pada hari Thursina maka silahkan membacanya. Dan jika tidak, maka jangan membacanya.” Syarhus Sunnah 1/271 • Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata كَيْفَ تَسْأَلُوْنَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ وَكِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْدَثُ، تَقْرَؤُوْنَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ، وَقَدْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوْا كِتَابَ اللهِ وَغَيَّرُوْهُ، وَكَتَبُوْا بِأَيْدِيْهِمُ الْكِتَابَ وَقَالُوْا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً، لاَ يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنَ الْعِلْمِ عَنْ مَسْأَلَتِهِمْ، لاَ وَاللهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلاً يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ Bagaimana kalian bertanya kepada ahlul kitab tentang sesuatu sementara kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah kitab paling akhir turunnya dari sisi Allah. Kalian membacanya dalam keadaan murni tidak bercampur dengan kepalsuan. Allah telah menyampaikan keterangan kepada kalian bahwa ahlul kitab itu telah mengganti dan mengubah-ubah kitabullah. Mereka menulis kitab itu dengan tangan-tangan mereka mereka karang sendiri kemudian mereka mengatakan “Ini apa yang mereka tulis itu diturunkan dari sisi Allah.” Mereka lakukan perbuatan itu untuk memperoleh keuntungan yang sedikit. Tidakkah ilmu yang datang kepada kalian mencegah kalian dari bertanya kepada mereka? Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian. HR. Al-Bukhari no. 7363, kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah, bab Qaulin Nabi shallallahu alahi wasallam La Tas`alu Ahlal Kitab an Syai`in Dari ucapan beliau radhiyallhu anhu لاَ وَاللهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلاً يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ , seakan-akan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma hendak menyatakan “Mereka ahlul kitab tidak pernah menanyakan tentang sesuatu pun kepada kalian, sementara mereka tahu kitab kalian tidak ada tahrif penyimpangan/ perubahan di dalamnya. Mengapa kalian justru bertanya kepada mereka sedangkan kalian benar-benar mengetahui bahwa kitab mereka telah diubah dari aslinya?” Fathul Bari 13/621. • Abdurrazzaq Ash-Shan’ani radhiyallhu anhu meriwayatkan dalam Mushannafnya no. 19212 dari jalan Huraits bin Zhuhair, ia berkata “Abdullah yakni Ibnu Masud berkata rahimahullah لاَ تَسْأَلُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ، فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوْكُمْ وَقَدْ أَضَلُّوا أَنْفُسَهُمْ، فَتُكَذِّبُوْنَ بِحَقٍّ أَوْ تُصَدِّقُوْنَ بِبَاطِلٍ “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepada ahlul kitab karena sesungguhnya mereka tidak akan memberikan petunjuk/ hidayah kepada kalian. Mereka sendiri telah menyesatkan diri mereka. Bila kalian bertanya kepada mereka kemudian mereka memberitakan apa yang kalian tanyakan, dikhawatirkan kalian akan mendustakan yang haq atau membenarkan yang batil.” Al-Hafizh Ibnu Hajar menghasankan sanadnya dalam FathulBari 13/408 Bila ada yang menyatakan bahwa larangan bertanya kepada ahlul kitab ini seakan bertentangan dengan perintah Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya فَاسْأَلِ الَّذِيْنَ يَقْرَؤُوْنَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelummu.” Yunus 94 Maka dijawab bahwa ayat ini tidaklah bertentangan dengan larangan yang tersebut dalam hadits. Karena yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah bertanya kepada ahlul kitab yang telah beriman, sementara larangan yang tersebut dalam hadits hanyalah ditujukan bila bertanya kepada ahlul kitab yang belum beriman. Fathul Bari 13/408 Ayat Allah pada Kitab Taurat dan Injil yang Asli menunjukkan Kebenaran Islam Apa yang disebutkan Syaikhul Islam ini dibuktikan kebenarannya oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah. Al-Qur`an Al-Karim dalam banyak tempat banyak menjadikan isi Taurat dan Injil sebagai hujjah atas ahli kitab untuk membenarkan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Silahkan baca surah Al-Ma`idah, mulai dari ayat 46-50. Demikian pula firman Allah subhanahu wata’ala كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلاًّ لِبَنِي إِسْرَائِيْلَ إِلاَّ مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيْلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوْهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil Ya’qub untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat, maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar’.” Ali Imran 93 Demikian pula yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar bahwa beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan membawa seorang lelaki dari mereka dan seorang wanita yang keduanya telah berbuat zina. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada mereka “Apa yang kalian lakukan terhadap orang yang berzina di antara kalian?” Mereka menjawab “Kami melumuri wajahnya dengan arang ada pula yang menafsirkannya kami menyiramnya dengan air panas. Dalam riwayat lain Kami mempermalukan mereka dan mereka dicambuk -red dan memukulnya.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Apakah kalian tidak menemukan hukum rajam dalam Taurat?” Mereka menjawab “Kami tidak mendapati sedikitpun tentang rajam.” Abdullah bin Sallam berkata kepada mereka “Kalian telah berdusta, datangkanlah Taurat jika kalian jujur.” Salah seorang guru mereka yang mengajari mereka meletakkan telapak tangannya di atas ayat rajam dengan maksud menutupinya, red.. Lalu diapun mulai membaca ayat yang sebelum dan sesudahnya, dan tidak membaca ayat rajam. Abdullah bin Sallam melepaskan tangannya dari ayat rajam dan bertanya “Ayat apa ini?” Tatkala mereka melihat itu merekapun menjawab “Itu ayat rajam.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan agar keduanya dirajam Dalam riwayat lain bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya aku menghukuminya berdasarkan apa yang terdapat dalam Taurat.”-red. Maka keduanya pun dirajam di dekat tempat jenazah yang ada di dekat masjid. Ibnu Umar berkata “Aku melihat yang dirajam tersebut berusaha menghindar, melindungi dirinya dari bebatuan yang dilemparkan kepadanya hingga ia tewas.” HR. Al-Bukhari, 8/4556 dan Muslim no. 1699 Bagi siapa yang melihat kitab Injil sekarang ini, masih sangat banyak ajaran-ajaran asli yang berasal dari ajaran Nabi Isa alaihissalam, yang apabila mereka memahaminya dengan pemahaman yang jernih, niscaya akan membawa kepada keyakinan akan kebenaran Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Di antaranya adalah apa yang disebutkan dalam Injil, kitab Ulangan 64 “Dengarlah hai orang Israil, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu satu.” Dan dalam kitab Yesaya 455-6 “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.” Demikian pula dalam Yohanes 173 “Inilah hidup yang kekal, yaitu mereka mengenal Engkau, satu-satu-Nya yang benar dan mengenal Yesus maksudnya adalah Nabi Isa alaihissalam -red yang telah engkau utus.” Demikian pula di dalam kitab Injil yang terdapat larangan membuat patung, dalam kitab keluaran 204-5 “Janganlah membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhan, Allahmu adalah Allah yang cemburu.” Bahkan anjuran untuk berkhitan pun disebutkan dalam Injil mereka, seperti yang disebutkan dalam Kitab Kejadian 1713 “Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat,” lalu pada ayat ke-14 disebutkan “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerah kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari tengah masyarakatnya. Ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” Demikian pula dijelaskan bahwa Nabi Isa alaihissalam hanyalah diutus secara khusus untuk Bani Israil, dan tidak lebih dari itu. Seperti yang disebutkan dalam Matius 105-6 “Kedua belas murid itu diutus Yesus dan ia berpesan kepada mereka Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Dan dalam Matius 1524 disebutkan “Jawab Yesus Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil’.” Seluruh perkara ini dibenarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dalam banyak haditsnya. Oleh karenanya, setelah diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai Nabi dan Rasul penghabisan, maka beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Sehingga tidak diperkenankan lagi bagi seorangpun dari kalangan umat ini untuk menjadikan petunjuk kecuali apa yang telah dibawa Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ لاَ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorangpun dari umat ini, apakah dia seorang Yahudi ataukah Nasrani, lalu dia mati dan tidak mengimani apa yang dengannya aku telah diutus, melainkan dia tergolong penduduk neraka.” HR. Muslim dan Ahmad Karena terbatasnya lembaran yang ada dalam rubrik ini maka kami tidak dapat memaparkan semuanya. Bagi pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan lebih jauh, silahkan membaca kitab-kitab seperti Al-Fishal fil Milal wal Ahwa` wan Nihal Al-Imam Ibnu Hazm, Al-Jawabus Shahih liman Baddala Dinal Masih Al-Imam Ibnu Taimiyyah, Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara Al-Imam Ibnul Qayyim, Izh-harul Haq Asy-Syaikh Rahmatullah Al-Hindi atau Mukhtasharnya. Manhaj yang Benar terhadap Buku-buku Ahlul Bid’ah wal Ahwa’ Melihat Umar radhiyallahu anhu memegang lembaran yang tertulis Taurat di dalamnya sudah membuat wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berubah karena marah. Padahal kitab Taurat merupakan salah satu kitab samawi, Kalamullah yang diturunkan Allah subhanahu wata’ala dari langit, meski kemudian diubah-ubah dan diganti Yahudi. Lalu bagaimana kiranya jika beliau shallallahu alaihi wasallam melihat buku-buku yang jelas tidak diturunkan dari langit, malah isinya bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah? Bagaimana kira-kira kemarahan beliau bila melihat kita membolak-balik buku tersebut dan membacanya? Apalagi ingin menyelami kebenaran yang katanya ada atau mungkin ada di dalamnya? Tentunya kemurkaan beliau jauh lebih besar lagi. Wallahul musta’an. Bisa jadi buku-buku yang ditulis ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu itu ada setitik atau beberapa titik nilai kebenaran, tapi kebenaran apa yang bisa diharapkan bila ia dibalut dan diselimuti sekian banyak kebatilan? Dan bukankah buku-buku yang selamat dari kebatilan masih banyak, buku-buku yang ditulis ulama Ahlus Sunnah masih menggunung? Kenapa harus mempersulit diri dengan menyelami samudera kebatilan nan pekat karena ingin mendapatkan sebutir kecil mutiara kebenaran? Ketika Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah memperingatkan seseorang dari buku Al-Harits Al-Muhasibi dengan menyatakan “Hati-hati engkau dari buku-buku ini, karena ini merupakan buku-buku bid’ah dan kesesatan. Wajib bagimu berpegang dengan atsar hadits atau Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam karena di dalamnya engkau akan merasa cukup.” Ternyata orang itu berkelit dengan mengatakan “Dalam buku-buku ini ada ibrah/ pelajaran.” Apa jawaban Abu Zur’ah rahimahullah? Beliau menegaskan “Siapa yang tidak mendapatkan ibrah dalam Kitabullah, niscaya tidak ada baginya ibrah dalam buku-buku ini.” Al-Mizan 2/165 Memberi peringatan tahdzir dari kitab-kitab yang di dalamnya terdapat kebid’ahan dan kesesatan, memang termasuk manhaj as-salafus shalih dengan mencontoh Rasul yang mulia shallallahu alaihi wasallam ketika mengingkari perbuatan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu. Tahdzir ini dimaksudkan sebagai penjagaan terhadap manhaj kaum muslimin dari kemudharatan dan bahaya yang dikandung dalam buku-buku tersebut. Dan tidak termasuk perbuatan dzalim bila seorang muslim menasehati saudaranya untuk menjauhi buku-buku yang demikian karena ingin menghindarkan kemudharatan yang akan didapatkannya, dengan semata ia menyebutkan kejelekan buku tersebut tanpa menyinggung kebaikannya. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal, wal Kutub wath Thawa`if, hal. 128, karya Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi bin Hadi Al-Madkhali Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata “Asy-Syaikh Muwaffaquddin rahimahullah menyebutkan larangan dari melihat buku-buku ahlul bid’ah. Beliau mengatakan “Adalah generasi salaf melarang dari bermajelis dengan ahlul bid’ah, melarang melihat buku-buku mereka, dan mendengar ucapan mereka.” Al-Adabus Syar’iyyah, 1/251 Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata menukilkan ucapan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah “Setiap buku yang berisi penyelisihan terhadap As-Sunnah tidak boleh dilihat dan dibaca. Bahkan yang diizinkan dalam syariat adalah menghapus dan memusnahkannya.” Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan “Para shahabat telah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf Utsman karena kekhawatiran mereka akan timbulnya perselisihan di tengah umat. Maka bagaimana bila mereka melihat buku-buku ini yang menciptakan perselisihan dan perpecahan di kalangan umat….” Ibnul Qayyim berkata lagi “Maksud dari semua ini adalah buku-buku yang mengandung kedustaan dan bid’ah wajib untuk dimusnahkan dan dipunahkan. Bahkan memusnahkannya lebih utama daripada menghancurkan alat-alat laghwi dan musik serta bejana-bejana yang berisi khamr. Karena bahaya buku-buku ini lebih besar daripada bahaya alat-alat musik. Dengan demikian tidak ada ganti rugi terhadap buku-buku tersebut sebagaimana tidak ada ganti rugi dari penghancuran bejana-bejana khamr.” Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal, wal Kutub wath Thawa`if, hal. 134. Lihat juga pembahasannya tentang buku-buku sesat disini. Wallahu’alam bish-shawab. Catatan Kaki [1] Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan bahwa dalam ayat ini dan yang sebelumnya ada peringatan dari melakukan penggantian, perubahan, dan penambahan dalam syariat. Maka semua orang yang mengganti, mengubah atau mengadakan perkara baru bid’ah dalam agama Allah dengan sesuatu yang bukan bagian dari agama dan dengan sesuatu yang terlarang dalam agama, maka ia masuk dalam ancaman yang keras dan azab yang pedih tersebut. Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 1/9 [2] Ibnu Aun berkata “Aku bertanya kepada Al-Hasan Apa yang dimaksud dengan مُتَهَوِّكُوْنَ ?’. Al-Hasan menjawab Orang-orang yang bingung’. Demikian disebutkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 1/132, sebagaimana dinukilkan dalam Al-Irwa` 6/38. Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah menyebutkan makna sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut Yakni apakah kalian bingung dalam berIslam, kalian tidak mengetahui agama kalian hingga kalian harus mengambil agama tersebut dari Yahudi dan Nasrani?” Syarhus Sunnah 1/271 [3] ثَكِلَتْكَ الثَّوَاكِلُ yakni betapa ibumu kehilangan kamu. Orang yang mengucapkan hal ini kepada seseorang seakan-akan mendoakan kematian lawan bicaranya karena jeleknya perbuatan atau ucapannya. Atau ia mengucapkan ucapan tersebut dengan maksud menyatakan “Bila engkau berbuat/ berucap demikian, maka kematian lebih baik bagimu, agar engkau tidak menambah kejelekan lagi.” Atau bisa pula ucapan ini termasuk lafadz-lafadz yang biasa beredar di lisan orang Arab tanpa dimaksudkan sebagai doa seperti ucapan mereka تَرِبَتْ يَدَاكَ dan قَاتَلَكَ اللهُ . An-Nihayah, hal. 123 Sumber Kelancangan Ahlul Kitab Terhadap Kitab Suci-Nya. Penulis Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi. Petunjuk bagi Orang-Orang yang Bingung Terhadap Buku Ahlul Kitab dan Buku-Buku Sesat. Penulis Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari. Filed under Aqidah, Ibrah Sirah, Ilmud-Dunia, Manhaj Tagged Buku Sesat, Kitab Injil, Kitab Taurat, Kristologi, Merubah Agama, Merubah Kitab, Nabi Isa, Nashrani, Penyimpangan, Sejarah, Yahudi Adasebagian orang yang meragukan keaslian isi Injil. Al-Quran menyatakan bahwa Injil adalah firman Allah dengan jelas. "Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat " (Qs 5:46). Apakah ada bukti Injil telah diubah? a. Perubahan taurat Beriman kepada kitab suci Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa adalah merupakan salah satu rukun keimanan. Allah Taala juga telah memberitahukan bahwa di dalam kitab terdapat cahaya penerangan serta petunjuk yang baik, malah Dia puji pula dengan firman-Nya وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ “Sungguh Kami Allah telah memberikan kitab pemisah antara yang baik dan yang buruk kepada Musa dan Harun dan menjadi cahaya serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwa”. Al-Anbiya48 Hanya saja kitab Taurat yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa AS kini sudah tidak ada sama sekali yang murni, sebagaimana diketengahkan oleh seluruh alim ulama dan kaum cendekiawan. Adapun kitab Taurat yang beredar sekarang ini sebenarnya merupakan karangan yang ditulis oleh lebih dari seorang penyusun dan ditulis dalam masa yang berlain-lainan. Sudah jelas di dalamnya banyak terdapat perubahan. ’Imam Farid Wajdi berkata, “Salah satu bukti bahwa kitab Taurat sudah berubah dari kemurniannya ialah bahwa Taurat yang beredar di tangan kaum Nasrani berbeda jauh dari Taurat yang beredar di tangan kaum Yahudi.” Alquran sendiri menetapkan adanya perubahan ini dan mengecam umat Yahudi yang memasukkan perubahan pada kitab suci tersebut.’’ Allah Taala menjelaskan hal itu dengan firman-Nya أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Apakah kamu semua menaruh harapan yang besar bahwa mereka akan beriman padamu, padahal sebagian dari mereka mendengar firman Allah kemudian mereka mengubahnya sesudah mereka mengerti dan mereka pun mengetahui mana yang sebenarnya?”. Al-Baqarah75 Jadi nyata bahwa kaum durhaka sudah berani mengubah kitab suci yang diturunkan oleh Allah Taala. Tujuan pengubahan itu ialah untuk menutupi yang hak dan melalaikan bagian yang terpenting dari apa-apa yang disebutkan oleh Allah Taala dalam kitab Taurat. Maka dari itu Taurat yang kini ada di tangan mereka tidak seluruhnya benar, tetapi hanya sebagian saja. Allah Ta’ala berfirman, مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ “Di antara umat Yahudi ada orang-orang yang mengubah kalimat-kalimat Allah dari yang semestinya”. An-Nisa46 Bukti yang utama atas kecaman Alquran terhadap kita Taurat yang beredar sekarang ini dan yang bukan merupakan wahyu Allah Taala yang diturunkan kepada Nabi Musa yang dijadikan sebagai cahaya dan petunjuk, ialah terdapatnya sifat-sifat Allah dalam Taurat yang sama sekali tidak sesuai dengan kemuliaan serta keagungan-Nya. Dalam bab Kejadian dari kitab Perjanjian Lama pasal 3 awal ayat 22 disebutkan sebagai berikut Maka firman Tuhan Allah, “Bahwa manusia telah menjadi bagaikan seorang kita, sebab diketahuinya akan baik dan jahat.” Terdapat pula dalam bab Kejadian, pasal 6, ayat 6 kata-kata yang berbunyi, “Maka menyesallah Tuhan sebab telah Dia jadikan manusia di atas bumi, maka ia mendukacitakan hatinya.” Coba pikirkan baik-baik! Apakah patut menurut akal pikiran, bahwa dua kalimat di atas benar-benar firman Allah swt.? Patutkah kiranya ada manusia yang derajatnya menyamai derajat Tuhan? Patutkah Tuhan mempunyai sifat menyesal karena merasa salah melakukan sesuatu, kemudian bersedih hati dan berdukacita? Masih banyak lagi kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam Taurat karena memang sudah diubah dan diganti oleh tangan manusia yang sengaja ingin menyelewengkannya dan sama sekali tidak bertanggung jawab. Bacalah kitab Taurat sekali lagi, di situ banyak uraian yang berkenaan dengan kisah para nabi yang dilanggar dan dinodai, sifat maksum, kemuliaan serta keluhuran budi pekerti mereka semua diingkari. Coba perhatikan isi Taurat itu, kemudian selami uraian-uraian yang terkandung di dalamnya. Di situ terdapat keterangan sebagai berikut a Dikatakan bahwa Nabi Ibrahim AS adalah pendusta besar. b Nabi Luth AS berzina dengan kedua putrinya. c Nabi Harun AS mengajak kaum Israel Yahudi menyembah anak lembu. d Nabi Daud AS berzina dengan istri Auria. e Nabi Sulaiman AS menyembah beberapa berhala untuk menyenangkan hati istrinya. Patutkah semua dilontarkan kepada para nabi? Adakah lagi bukti yang lebih kuat untuk menunjukkan perubahan Taurat yang melebihi dari uraian-uraian sebagaimana yang tercantum di atas itu? Kini bukan umat Islam lagi yang mengoreksi isi kitab Taurat itu, bahkan di kalangan umat Yahudi sendiri sudah muncul beberapa pengeritik yang memberikan kecaman pedas mengenai perubahan kitab Taurat yang tidak sewajarnya. Para ahli kitab suci yang ingin mengadakan pembaharuan dalam agamanya, dengan terpaksa mengakui adanya kenyataan yang pahit ini yakni bahwa kitab Taurat sudah diubah dan banyak yang diganti dari yang sebenarnya. Seorang pemimpin mazhab dari golongan pembaharuan ini yang bernama Hakam Paris Agulian Wyl banyak memberikan pendapatnya dalam kitab yang berjudul Agama Yahudi. b. Perubahan Injil Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS sama halnya dengan kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS Keduanya adalah firman Allah SWT yang juga merupakan petunjuk dan cahaya penerangan bagi manusia. Hanya saja Injil pun mengalami nasib yang sama dengan Taurat sudah dihinggapi berbagai perubahan dan penggantian yang dilakukan oleh tangan manusia. Allah Taala berfirman وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ “Di antara orang-orang yang mengatakan, Sesungguhnya kita ini orang-orang Nasrani Kristen. Kami mengambil perjanjian dari mereka. Tetapi mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Oleh sebab itu Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.’ Nanti Allah akan memberitahukan kepada mereka apa-apa yang telah mereka kerjakan. Hai Ahli Kitab Nasrani dan Yahudi! Sesungguhnya telah datang utusan Kami kepadamu semua untuk menjelaskan kepada kamu semua berbagai masalah dari isi Kitab yang kamu semua sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya.” Al-Maidah14-15 Rasanya sudah cukup jelas bahwa untuk membuktikan kebenaran tuduhan tentang diubahnya kitab Injil ialah kenyataan yang menunjukkan asal mulanya kitab Injil yang beredar di tangan kaum Nasrani sekarang ini. Asal mulanya jumlah kitab-kitab Injil amat banyak sekali yakni tujuh puluh buah naskah yang dibuat oleh umat Kristen, kemudian dipilih empat buah saja yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yahya Yohanna. Kitab-kitab Injil sebagaimana disebutkan di atas memuat tulisan dan catatan kehidupan atau sejarah hidup Nabi Isa AS Para pengarangnya dimaklumi dan nama-nama mereka pun tercantum di situ. Para kritikus dari golongan umat Kristen sudah mengakui bahwa apa yang kini menjadi akidah atau kepercayaan yang tertera dalam kitab Injil adalah semata-mata pendapat Paulus saja dan bukan pendapat kaum hawari pengikut setia Nabi Isa dan bukan pula pendapat orang-orang yang terdekat kepada beliau. Di kota Paris terdapat sebuah perpustakaan milik salah seorang pangeran di mana tersimpan sebuah naskah kitab Injil karangan Barnaba. Kitab ini telah dicetak kembali oleh percetakan Al-Manar setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Isi dari Injil Barnabas ini sangat berbeda dengan isi kitab Injil empat macam yang tersebut di atas. Perbedaannya bukan sedikit, tetapi amat besar sekali.
Orang2 kristen telah melakukan perubahan terhadap kitab injil sebanyak 3 kali atau 4 kali, perubahan yg di lakukan ini hampir merobah seluruh kontemtum kitab injil." Mereka tertangkap saksi2 mata hidup akan pemalsuan injil-injil, padahal sahabat Jesus baru wafat. Wajarlah di kemudian hari terhendus ayat-ayat palsu trinity. Pe Lanjutkan Membaca
Oleh M. Darojat AriyantoFakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta Tulisan ini mengkaji beberapa literatur yang membahas tentang penulisan Kitab Taurat dan Empat Injil, terutama yang dikarang oleh pemeluk Kristen sendiri, baru kemudian dari penulis non Kristen. Setelah beberapa literatur tersebut dikaji kemudian dianalisis secara kualitatif Kitab Taurat merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Untuk memberi gambaran yang jelas mengenai kedudukan dan proses penulisan Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama, diuraikan tentang isi dari Perjanjian Lama dan proses penulisan Kitab Taurat Abstrak Tulisan ini mencoba mengkaji proses penulisan Kitab Taurat yang merupakan bagian dari Perjanjian Lama dan Empat Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes Yahya yang merupakan bagian dari Perjanjian Baru. Hasil penulisan menunjukkan, bahwa Kitab Taurat tidak asli lagi, sebab tidak ditulis dari satu sumber saja, tetapi dari empat sumber Yahwist, Elohist, Deuteronomis, dan Priester, ditulis oleh banyak penulis para imam dan penulispenulis lainnya dari rentang waktu yang lama antara tahun 900 SM sampai dengan 500 SM dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacammacam Israel, Yehuda, dan Babilonia. Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber tadi dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat. Adapun Empat Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yahya tidak asli lagi, sebab proses penulisannya sejak dari empat dokumen A, B, C, dan Q menjadi Injil sementara Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya sampai menjadi Injil yang sekarang ini atau yang definitif Matius, Markus, Lukas dan Yahya telah terjadi banyak perubahan. Kata kunci Kitab Taurat, Perjanjian Lama, Empat Injil, Perjanjian Baru. PENDAHULUAN Ada beberapa cara pemeluk agama Islam mengkritisi keaslian Kitab Taurat dan Empat Injil. Cara yang pertama, dengan menilainya dari kacamata Al Qur’an. Misalnya dengan menyatakan bahwa Kitab Taurat dan Kitab Injil yang dipakai sebagai kitab suci pemeluk agama Yahudi dan Nasrani sudah dipalsukan atau sudah ada campur tangan manusia. Hal ini didasarkan pada beberapa ayat dari Al Qur’an yang memberi informasi tentang ketidakasliannya Kitab Taurat dan Empat Injil yang sekarang dipakai oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Misalnya di dalam Surat Al An Nisaa’ 46, Surat Al Baqarah 75, dan Surat Al Maidah 41, diinformasikan bahwa isi Taurat sudah dirubah. Selanjutnya di dalam Surat Al Baqarah 146 dan Surat Ali Imran 17 diinformasikan bahwa orang-oang Yahudi dan Nasrani telah menyembunyikan kebenaran tentang Muhammad. Cara ini biasanya dilakukan oleh para muballig atau da’i Muslim. Cara yang kedua, dengan menunjukkan beberapa kontradiksi di dalam Kitab Taurat dan Empat Injil. Misalnya kontradiksi antara ajaran Tuhan Yang Maha Esa dengan ajaran Trinitas atau ajaran-ajaran lainnya baik yang ada di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Cara ini misalnya dilakukan oleh kelompok Arimatea, Irena Handono, Hasbullah Bakri, dsb. Cara yang ketiga, dengan analisis sejarah agama yang menunjukkan bahwa ajaran Trinitas Kristen dipengaruhi oleh ajaran agama lain sebelum agama Kristen ada. Misalnya dengan menyatakan bahwa ajaran Trinitas yang ada di dalam Perjanjian Baru dipengaruhi oleh ajaran Trimurti dari agama Hindu, ajaran agama Yunani Kuno, dan sebagainya. Cara ini dilakukan oleh O. Hashem, M. Arsyad Thalib Lubis, dsb. Adapun pada tulisan ini penulis tidak memakai beberapa cara di atas, tetapi mencoba memakai cara lain yaitu dengan cara mengkaji proses penulisan Kitab Taurat yang merupakan bagian dari Perjanjian Lama dan Empat Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes Yahya yang merupakan bagian dari Perjanjian Baru. Tulisan ini dilakukan dengan cara mengkaji beberapa literatur yang membahas tentang penulisan Kitab Taurat dan Empat Injil, terutama yang dikarang oleh pemeluk Kristen sendiri, baru kemudian dari penulis non Kristen. Setelah beberapa literatur tersebut dikaji kemudian dianalisis secara kualitatif. KITAB TAURAT DALAM PERJANJIAN LAMA Kitab Taurat merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Untuk memberi gambaran yang jelas mengenai kedudukan dan proses penulisan Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama perlulah di sini diuraikan tentang isi dari Perjanjian Lama dan proses penulisan Kitab Taurat. 1. Isi perjanjian Lama Perjanjian Lama terdiri dari 39 Kitab, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemis, Ester, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi LAI, 1983 5. Bahasa yang dipakai dalam Perjanjian Lama adalah bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani kadang-kadang disebut dengan bahasa Yehuda, bahasa Yahudi dan bahasa Kanaan. Bahasa Ibrani termasuk dalam kelompok Bahasa Semitik, yaitu bahasa yang dipakai oleh orang-orang keturunan Sem, salah seorang anak Nabi Nuh. Di samping ditulis dalam Bahasa Ibrani, ada sebagian kecil Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Arami Syria Santoso, 1981 45-46. Ke 39 kitab di dalam Perjanjian Lama diklasifikasikan menjadi tiga bagian besar, yaitu Taurat/ Thora/ Pentateuch Bagian dari Taurat ini terdiri dari Kitab kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Bagian Taurat ini ditetapkan keabsahannya sebagai ukuran ajaran yang benar bagi umat Nasrani kanonik pada tahun 456 SM. Pada saat itu Ezra ahli Kitab Suci dari Babel telah membacakan Kitab-kitab Musa Taurat/ Thora/ Pentateuch pada bangsa Yahudi di pembuangan. Nabi-Nabi Nebiim Bagian Nebiim ditetapkan sebagai kitab kanonik pada tahun 200 SM. Kitab-kitab ini sudah ada pada masa pembuangan dan baru dibukukan sesudah masa pembuangan. Pada saat itu Yesus Sirach 190 SM dan 12 nabi Kecil telah mengenal 3 Nabi Besar. Bagian ini terdiri dari a. Nabi-nabi yang terdahulu Nebiim Risyonim, yaitu Yosua Yusak, hakim-hakim Syofetim, I, II Samuel I, II Syemuel, dan I, II Raja-raja I, II Melakim.b. Nabi-nabi yang terkemudian Nebiim Akharonim. Ini terdiri dari dua bagian yaitu i Nabi-nabi Besar, yaitu Yesaya Yesyayahu, Yeremia Yirmeyahu dan Yehezkiel Yechezqel.ii Nabi-nabi Kecil, yaitu Hosea Hosyea, Yoel Joel, Amos, Obaja Obadyah, Yunus Yonah, Mikha Mikah, Nahum, Habakuk, Zefanya Sefanyah dan Maleakhi Malaki. Kitab-kitab Ketubim Bagian ini disahkan sebagai kitab yang bersifat kanonik pada tahun 100 M pada Synode Jamnia. Kitab-kitab ini dihimpun pada masa sesudah pembuangan, walaupun ada bahan-bahan dari sebelum masa pembuangan, yaitu Mazmur dan Amsal. Kitab-kitab Ketubim ini terdiri dari Mazmur Tehillim, Ayub Iyob, Amsal Misyele, Rut Ruth, Kidung Agung Syir’ul-Asyar atau Syir hasysyiirim, Pengkhotbah Alkhatib atau Qohelet, Ratapan Nudub-Yeremia atau Ekah, Ester Esther, Daniel, Ezra, Nehemia Nehemiyah, dan I, II Tawarikh I, II Dibre Hayyamim Naipospos, 1988 9-10. Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa Kitab Taurat merupakan lima kitab yang pertama dari 39 kitab yang ada di Perjanjian Lama. Lima kitab di dalam Kitab Taurat ini adalah Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamamat, Kitab Bilangan, dan Kitab Ulangan. Kitab Taurat juga merupakan bagian yang pertama dari tiga bagian besar Perjanjian Lama yang mencakup a. Taurat,b. Nabi-nabi Nebiim, danc. Kitab-kitab Ketubim. 2. Penulisan Kitab Taurat Kitab Taurat disebut juga dengan istilah Thora atau Pentateuch merupakan lima kitab yang pertama dari 39 kitab yang ada di dalam Perjanjian Lama. Kitab Taurat terdiri dari lima kitab yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Beberapa peneliti Kitab Taurat menemukan beberapa kejanggalan atau keanehan di dalam Kitab Taurat. Beberapa kejanggalan tersebut antara lain sebagai berikut Pertama, di dalam Kitab Taurat sering terjadi pengulangan dalam isi atau cerita. Misalnya sepuluh firman Allah yang sudah disebutkan di dalam Keluaran 20 ditulis lagi dalam Ulangan 5 dengan sedikit perbedaan. Pengusiran Hagar oleh Abraham juga diceritakan dua kali, yaitu di dalam Kejadian 16 dan 21. Demikian juga masih banyak pengulangan cerita lagi di berbagai tempat. Kedua, sering terjadi perubahan bahasa, seolah-olah penulisnya berganti dialek dalam satu bahasa. Contoh yang paling menonjol adalah nama untuk Tuhan. Sebagian teks memakai nama “Elohim” untuk Tuhan, sebagian memakai istilah “Yahwe,” dan sebagian kecil lainnya memakai kombinasi yang disengaja “Yahwe-Elohim.” Ketiga, cerita kadang-kadang juga memberikan kesan seakan-akan tidak begitu logis dan konsekuen. Misalnya di dalam sebagian cerita, Moses sendiri yang memegang peranan paling penting. Dia mengucapkan pidato di muka Fir’aun seraya memegang tongkatnya. Tetapi di dalam cerita lain, Harunlah yang menyampaikan pidato dan memegang tongkat Steenbrink, 1987 100. Berdasarkan beberapa kejanggalan tersebut, beberapa peneliti memberikan teorinya tentang penulisan Kitab Taurat. Menurut A. Kuenen dan J. Wellhausen, Kitab Taurat ini berasal dari 4 sumber yang berbeda-beda, yaitu i. Sumber yang menggunakan nama “Yahwe” Y.ii. Sumber yang menggunakan nama “Elohim” E.iii. Sumber yang khususnya terdapat dalam Kitab Ulangan atau Deuteronium D.iv. Sumber yang terutama dipelopori oleh imam-imam yang disebut “Priester Codex” P. Sumber Yahwist menulis sejarah Israel dari penciptaan sampai kepada Kelepasan Keluaran bangsa Israel dari Mesir, dan perkembangan mereka setelah berada di Kanaan. Sumber ini muncul dan ditulis kira-kira tahun 900-800 Sm di daerah selatan Yehuda. Ciri-ciri sumber Yahwist adalah sbb 1 Allah selalau disebut dengan nama Yahwe; juga nenek moyang Israel sudah mengenal nama Pada umumnya Allah di dalam wahyu-Nya penyataan-Nya dilukiskan dan digambarkan dalam bentuk seorang manusia antropomorf.3 Sumber ini bersifat universal, Allah adalah Khalik langit dan bumi 4b dst., dan Allah seluruh dunia dan semua manusia. Berikutnya di dalam sumber Elohist E, Allah disebut dengan nama Elohim. Sumber E menggunakan nama Elohim sampai cerita pemangilan Musa Keluaran 2, dimana Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa. Jadi Musalah orang pertama yang mengenal nama Yahwe. Selanjutnya sumber E lahir di Kerajaan Utara Israel kurang lebih tahun 800 dan 700 SM, ketika sinkretisme Baalistis melanda kehidupan agama Israel. Situasi ini diprotes oleh para nabi, terutama dibawahi oleh Nabi Elia dan Elisa. Gerakan para nabi ini mempengaruhi sumber E dan menjadi dasar kemunculan sumber tersebut. Sumber ini menitikberatkan bangsa Israel sebagai bangsa yang dipilih Allah, atau menekankan hubungan yang khusus antara Allah dengan bangsa Israel. Maka sumber ini bersifat partikularistik. Seterusnya sumber Deuteronomist D muncul pada tahun 622 SM di Yerusalem ketika Bait Allah sedang diperbaiki atas perintah Raja Yosia. Pada saat itu para tukang menemukan suatu naskah gulungan yang disebut sebagai Taurat II Raja 22 8 yang ternyata adalah sebagian dari Kitab Ulangan, yaitu fasal 12-26. Secara teologis sumber ini menentang sinkretisme. Hal ini terlihat di dalam pembaharuan Deutoronomis, dimana kuil-kuil di luar kota Yerusalem diprotes dan ditutup, sebab kuil-kuil tersebut disebut sebagai pusat sinkretisme. Di samping itu sumber ini juga menekankan pemanggilan Allah kepada bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Konsekuensinya bangsa Israel harus mematuhi segaka perintah dan hukum-hukum Allah. Apabila mereka tidak mematuhinya, maka Allah akan menghukum dan menolak mereka. Akhirnya sumber Imamat atau Priester codex P lahir kira-kira pada tahun 550 sampai 500 SM. Penulisan ini terjadi di masa bangsa Israel ditawan di Babilonia dan Bait Allah di Yerusalem hancur. Pada masa ini para imam menulis segala tradisi yang ada dan mengumpulkannya supaya tidak hilang. Maksud P menulis ialah untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa merekalah bangsa kudus Allah. Dalam kerangka ini P sangat menekankan peranan kultus. Dengan demikian tulisan-tulisan P banyak menyangkut aturan-aturan kebaktian dan semua hal yang berhubungan dengan dengan imamat. Aturan-aturan kultus P teristimewa terdapat dalam Kitab Imamat. Sementara itu para ahli lain menaruh perhatian pada bagian yang paling kecil dari Pentateukh, kepada bentuk sasteranya dan peranannya dalam kebudayaan bangsa Israel. Ada ahli yang menguraikan keempat sumber besar di atas menjadi anak-anak sumber yang lebih kecil. Misalnya sumber “Y” diuraikan menjadi Y, Y1, Y2, Y3. Sumber “E” juga diurai menjadi E, E1, E2, E3. Selanjutnya Engnell menggantikan teori sumber ini dengan memperhatikan tradisi-tradisi lisan dan tradisi tulisan. Menurut dia setelah dalam perkembangan yang lama, tradisi-tradisi lisan dikumpulkan oleh seorang redaktur menjadi Kitab Kejadian sampai Bilangan. Sementara itu seorang redaktur lain mengumpulkannya menjadi Kitab Ulangan sampai Raja-raja Naipospos,1988 17-22. EMPAT INJIL DALAM PERJANJIAN BARU Sebagaimana disebutkan di atas, Empat Injil merupakan bagian dari Perjanjian Baru. Untuk dapat memahami kedudukan dan proses penulisan Empat Injil dalam Perjanjian Baru perlulah di sini diuraiakan mengenai isi dan proses penulisan dari Perjanjian Baru. 1. Isi Perjanjian Baru Perjanjian Baru terdiri dari 27 Kitab. Nama-nama kitab tersebut adalah sebagai berikut Matius, Markus, Lukas, Yohanes Yahya, Kisah Para Rasul, Roma, I Korintus, II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, Wahyu LAI, 1983 5. Sedang istilah Kitab Injil yang biasa diketahui oleh kebanyakan orang Islam ialah empat kitab yang pertama dari Perjanjian Baru Matius, Markus, Lukas, Yohanes. Mereka kurang menyadari bahwa masih ada 23 kitab lain di dalam Perjanjian Baru. Bahasa yang dipakai dalam Perjanjian Baru adalah bahasa Yunani Koine. Bahasa Yunani Koine ini biasa disebut juga dengan Koine dialektos atau Hellenistik Greek atau terkadang disebut dengan bahasa Yunani umum, karena paling luas daerah pemakaiannya. Yang dipakai bukan bahasa Yunani Homeric bahsa Yunani klasik, Attic bahasa Yunani yang dipakai oleh penduduk di pedalaman negeri Grika, di Attica, suatu distrik dekat dengan Atena, Byzantine maupun Modern. Hanya sebagian kecil dari Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Arami Syria Santoso, 1981 46, 47. Secara garis besar ke-27 kitab dari Perjanjian Baru dapat diklasifikasikan menjadi 4 golongan besar, yaitu a. Injil-injil dan Kisah Para Rasul Injil-injil ini berisi kesaksian tentang perkataan dan perbuatan Yesus dimana di dalam Yesus kerajaan Allah telah datang, menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama tentang Raja Abadi, Mesias yang dijanjikan. Dia diberi gelar Kristus Christos dalam bahasa Yunani, yang berarti yang diurapi “Christos” bahasa Yunani sama dengan Masyiyah bahasa Ibrani, sedang dalam Bahasa Indonesia disebut Messias. Adapun Kisah Para Rasul berisi tentang perkembangan kerajaan Allah sesudah Yesus naik ke sorga, sampai ke pusat dunia zaman itu Roma. b. Tiga Belas Surat Paulus dan Surat Ibrani. Surat-surat Paulus menyertai dan membimbing perkembangan Gereja dan memberitakan Injil Duyverman, 197535. Ketiga belas surat Paulus ini adalah Surat Roma, I Korintus, II Korintus, Galatia, Efsus, Filipi, Kolose, I Tesalonika, II Tesalonika, I Timotius, II Timotius, Titus, dan Filemon Yayasan, 2001 12. Sembilan dari Surat-surat Paulus ditujukan ke gereja-gereja dan empat buah ditujukan kepada perseorangan. Kebanyakan dari surat-surat tersebut menguraikan masalah-masalah yang timbul di gereja kecuali Surat Efesus. Ada beberapa surat yang bernada sangat akrab Filipi dan II Korintus dan yang lainnya mempunyai gaya yang lebih resmi dan mirip sebuah tesis, dan dalam unsur-unsur pokoknya tidak termasuk pembukaan dan penutup yang biasanya bersifat pribadi menunjukkan nada yang praktis. Mungkin Surat Roma merupakan contoh yang terkemuka dari jenis ini. Selanjutnya, isi surat-surat kiriman Paulus tersebut beraneka ragam dan juga gabungan antara bagian ajaran dengan bagian praktiknya seimbang Yayasan, 2001 14. Surat Ibrani berbeda dengan suratsurat lainnya, tidak ditujukan kepada jemaat tertentu tetapi berupa uraian Duyverman, 1975 35. Surat ini terutama membicarakan masalah penderitaan sama dengan isi surat Yakobus dan I Petrus Yayasan, 2001 14. c. Ke-7 Surat Am. Sering juga Surat Am disebut dengan Surat-surat Katolik. Maksudnya surat-surat tersebut tidak ditujukan kepada jemaat tertentu seperti surat-surat Paulus, tetapi kepada gereja seluruhnya. Dalam bahasa Yunaninya disebut dengan surat-surat “kath holen ten oikomenen, “ artinya bagi seluruh bumi Duyverman, 1975 36. Ke-7 SuratAm ini adalah Surat Yakobus, I Petrus, II Petrus, I Yohanes, II Yohanes, III Yohanes, dan Yudas Yayasan, 2001 12. Meskipun penulis surat-surat ini bermacam-macam, tetapi isinya dapat dikelompokkan menjadi dua judul utama. Pertama, beberapa surat yang terutama membicarakan masalah penderitaan Yakobus dan I Petrus. Kedua, yang terutama membicarakan masalah ajaran palsu I dan II Petrus, I, II, III Yohanes, dan Yudas Yayasan, 2001 14. d. Wahyu. Kitab ini termasuk jenis kitab eskhatologis dan apokaliptis, yang menghibur jemaat dalam pengembaraannya di dunia ini. Kata eskatologis berasal dari kata Yunani ta eskala, artinya hal ihwal yang akhir, dalam arti theologios khususnya ialah akhir zaman. Sedang kata apokalptis berasal dari kata Yunani apokalyptem yang berarti membuka tudung, menyingkapkan khususnya mengenai akhir zaman Duyverman, 1975 36. Sebagaimana kitab nubuat Daniel dalam Perjanjian Lama, sebagian besar dari kitab Wahyu menguraikan penghukuman Allah pada akhir zaman terhadap “semua orang yang diam di atas bumi.” Di dalam kitab Wahyu klimaks penebusan digambarkan. Kata-kata Paulus yang pernah diucapkan sebelumnya bahwa rencana Allah ialah “mempersatukan di dalam Kristus . . . segala sesuatu” Efesus 1 10, telah menjadi kenyataan ketika Yohanes menulis Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” Wahyu 11 15 Yayasan, 2001 15. Gaya bahasa di dalam Perjanjian Baru bermacam-amacam. Ada kitab yang gaya bahasanya kurang baik misalnya Kitab Wahyu, ada yang terlatih misalnya Kitab Lukas dan Kitab Ibrani, dan ada yang sederhana misalnya Markus. Injil yang empat Matius, Markus, Lukas, dan Yahya mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun 170 M. Sebelum Injil yang empat ditulis di masyarakat Kristen sudah beredar surat-surat dari Paulus. Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa Empat Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes/ Yahya merupakan empat kitab yang pertama dari 27 kitab yang ada di dalam Perjanjian Baru. Demikian juga Empat Injil merupakan bagian yang pertama dari empat bagian besar di dalam Perjanjian Baru, yaitu a. Injil-injil dan Kisah Para Rasul,b. Tiga Belas Surat Paulus dan Surat Ibrani, c. Ke-7 Surat Am, dan d. Wahyu. 2. Penulisan Empat Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes/ Yahya Pada zaman modern beberapa peneliti Injil mulai mengerti bahwa setiap pengarang Injil, meskipun mengambil informasi yang ada pada pengarang lain, ia juga menyusun suatu riwayat menurut seleranya dan pandangan pribadinya. Oleh karena itu beberapa ahli mulai memperhatikan kumpulan bahan-bahan hikayat, di satu pihak dalam tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan di lain pihak dalam sumber umum dalam bahasa Aramik yang mestinya ada, akan tetapi sampai sekarang belum ditemukan orang. Sumber yang tertulis ini mungkin merupakan suatu kumpulan yang utuh atau berupa bagian-bagian yang bermacam-macam yang dapat dipakai oleh setiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya. Holtzmann berteori bahwa Matius dan Lukas memakai sumber dari Markus dan dari suatu dokumen yang sekarang hilang. Selain itu Matius dan Lukas masing-masing memakai sumber sendiri. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut Teori di atas dikritik oleh O. Culmann sebagai berikut Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius tersebut belum tentu merupakan Injil Markus. Boleh jadi yang dianggap Injil Markus tersebut berupa karangan lain yang ditulis sebelumnya. Teori tersebut mengabaikan tradisi lisan. Padahal tradisi lisan inilah yang memelihara kata-kata Yesus dan hikayathikayat kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya setiap pengarang Injil itu hanya juru bicara masyarakat Kristen yang merupakan tradisi lisan. Menurut Boismard ada 4 dokumen yang merupakan sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan A, B, C dan Q. Dokumen A berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus. Dokumen B adalah interpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen Kafir-Kristen. Dokumen ini telah memberi inspirasi kepada semua penulis Injil, keculi Matius. Dokumen C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya. Dokumen Q merupakan bagian besar dari sumber bersama yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah dokumen bersama yang disebut dalam teori “dua sumber.” Di antara 4 macam dokumen tersebut di atas tidak ada yang menjadi teks definitif yang dimiliki sekarang. Antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-redaksi antara yang dinamakan Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara tersebut akhirnya menjadi Injil yang empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dari satu Injil. Bagan dari teori di atas ditampilkan pada bagan 1. Berdasarkan informasi di atas dapatlah disimpulkan bahwa dengan membaca Injil, pembaca sama sekali tidak yakin bahwa pembaca telah membaca kata-kata Yesus. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi konpensasi sebagai berikut Jika pembaca terpaksa tidak dapat mendengarkan suara langsung dari Yesus, ia mendengar suara Gereja Rasjidi, 1979 118-123. Ada lagi teori tentang penulisan Injil yang dinamakan teori Formgeschichte. Menurut teori ini cerita-cerita tentang kehidupan Yesus bertahun-tahun lamanya beredar di antara pengikut-pengikutnya secara lisan. Kemudian bentuk-bentuk cerita tersebut ditulis dan diklasifikasikan sesuai dengan isinya, yaitu mujizatmujizat, nasihat-nasihat, pengajaran-pengajaran dsb. Kemudian fragmenfragmen tersebut dikumpulkan dan dicocokkan dengan maksud penulis setiap kitab Injil. Oleh karena itu kitabkitab Injil bukanlah merupakan laporan historis 100% dari kehidupan dan perbuatan Yesus, tetapi suatu kisah yang disusun dan ditulis untuk memenuhi kebutuhan rohani jemaat permulaan Tulluan, 43. Selanjutnya Injil Matius, Markus dan Lukas mempunyai banyak cerita yang sama, bahasa yang sama, susunan kalimat dan kata-kata yang sama. Oleh karena itu dinamakan Injil synopsis. Berdasarkan beberapa persamaan ini ada dugaan Pertama, adanya satu sumber tulisan-tulisan yang digunakan atau dengan kata lain yang dijiplak. Berdasarkan dugaan ini, ada beberapa kemungkinan i. Markus, Matius dan Lukas ditulis secara Markus dikarang lebih dahulu, baru dipergunakan sebagai sumber oleh Matius, kemudian Lukas mengambil pula karangan Matius sebagai Markus menjadi dasar untuk Matius dan Lukas, yang mengarang Injil-injil mereka tanpa saling Markus merupakan petikan dari Markus dan Lukas. Kedua, Injil Markus dikarang lebih dahulu. Selanjutnya Injil Matius dan Lukas ditulis kemudian lepas satu sama lain. Kedunya Matius dan Lukas mengambil sumber baik Injil Markus terutama untuk ajaran-ajaran maupun sumber lain Q. Di samping itu masingmasing Injil Markus, Matius dan Lukas masih mengambil bahan-bahan khas yang diambil dari tradisi yang tersiar dalam gereja Duyverman, 1976 36-41. ANALISIS TERHADAP PENULISAN KITAB TAURAT Berdasarkan pendapat A. Kuenen dan J. Wellhausen Kitab Taurat berasal dari empat sumber yang berbeda-beda. Pertama, sumber “Y” Yahwist. Sumber ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Tuhan disebut dengan “Yahwe”, antropomorf, dan universal. Sumber ini berisi tentang sejarah Israel dari penciptaan sampai kepada Kelepasan Keluaran bangasa Israel dari Mesir, dan perkembangannya setelah berada di Kanaan. Sumber “Y” muncul dan ditulis kira-kira tahun 900-800 SM di daerah selatan Yehuda. Kedua, sumber “E” Elohist. Sumber ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Tuhan disebut dengan “Elohim” dan bersifat partikularistik. Sumberi ini menggunakan nama “Elohim” sampai cerita pemanggilan Musa Keluaran 2 dimana Tuhan menyatakan nama-Nya kepada Musa. Jadi Musalah orang pertama yang mengenal nama Yahwe. Sumber “E” lahir di Kerajaan Utara Israel kuranf lebih tahun 800 – 700 SM. Ketiga, sumber “D” Deutoronomist. Sumber ini berisi tentang penolakan sinkretisme yang berada di kuil-kuil di luar kota Yerusalem. Sumber ini juga menekankan pemanggilan Tuhan kepada bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya. Konsekuensinya bangsa Israel harus mematuhi semua perintah dan hukum Tuhan. Bila mereka tidak mematuhinya, maka Tuhan akan menghukum dan menolak mereka. Sumber “D” ada pada tahun 622 SM di Yerusalem ketika Bait Allah diperbaiki atas perintah Raja Yosia. Pada saat itu para tukang menemukan suatu naskah gulungan yang disebut sebagai taurat II Raja 22 8 yang ternyata adalah sebagian dari Kitab Ulangan, yaitu fasal 12-26. Keempat, sumber “P” Priester Codex. Sumber ini lahir kira-kira pada tahun 550-500 SM. Penulisan ini terjadi pada masa bangsa Israel ditawan di Babilonia dan Bait Allah di Yerusalem hancur. Pada masa ini para imam menulis segala tradisi yang ada dan mengumpulkannya supaya tidak hilang. Sumber ini mengingatkan bahwa bangsa Israel adalah bangsa kudus Allah. Dalam kerangka ini sumber P menekankan peranan kultus. Oleh karena itu tulisan-tulisan dari sumber P banyak menyangkut aturan-aturan kebaktian dan imamat. Aturan-aturan kultus P teristimewa terdapat di dalam Kitab Imamat. Berdasarkan teori empat sumber di atas, dapatlah diambil suatu pengertian bahwa Kitab Taurat ditulis bukan oleh seorang penulis Musa. Tetapi ditulis oleh banyak penulis para imam dan penulispenulis lainnya dari rentang waktu yang lama kurang lebih tahun 900 SM sampai dengan 500 SM dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacammacam Israel, Yehuda, dan Babilonia. Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber di atas dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat. Sebagai konsekuensinya di dalam Kitab Taurat terdapat beberapa kejanggalan, misalnya dalam pengulangan isi atau cerita, perubahan bahasa, cerita tidak begitu logis dan konsekuen. Secara logis maka Kitab Taurat yang sekarang ini dipercayai sebagai kitab suci agama Yahudi dan Kristen tidak asli lagi sebagai wahyu Allah, karena sudah melibatkan banyak campur tangan manusia dari berbagai status sosial penulisnya, dari berbagai lingkungan sosio-budaya dan disusun selama berabad-abad lamanya. Berkaitan dengan campur tangan manusia dalam penulisan Kitab Taurat ini Dr. Maurice Bucaille menyatakan Dalam rangka kritik mengenai teks, Taurah Pentateuque memberi contoh yang amat jelas tentang perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia, pada bermacammacam periode sejarah bangsa Yahudi, tradisi lisan dan teks-teks yang berasal dari generasi-generasi terdahulu Rasjidi, 1979 39. Selanjutnya Prof. Dr. Al A’zami dalam hal ini menyatakan Sebuah kesan yang salah telah terbangun di antara para pembaca umum bahwa PL telah ditransmisikan sepanjang masa secara persis kata demi kata, dan huruf demi huruf. Padahal tidaklah demikian kasusnya; bahkan “Sepuluh Perintah The Ten Commandments saja berbeda dalam dua versi. Para sarjana sepakat bahwa pada akhir era pra-Masehi, teks PL dikenal dalam berbagai tradisi yang berbeda satu sama lain pada tingkat yang beragam. Untuk menyelesaikan teka-teki tipe teks yang sangat beragam ini, para sarjana telah menggunakan pendekatan-pendekatan approaches yang berbeda. “Frank M. Cross menafsirkan keberagaman tersebut sebagai bentuk-bentuk teks lokal Palestina, Mesir, dan Babilonia,” yang berarti bahwa setiap pusat dari pusat-pusat itu memelihara teks PL masing-masing, yang sama sekali berdiri sendiri independent dan tak ada hubungan apapaun dengan teks-teks yang digunakan pusat-pusat yang lain. Shemaryahu Talmon menolak teorinya Cross; sebagai gantinya dia berpendapat bahwa “para pengarang, penghimpun, dan juru tulis dulu itu menikmati apa yang bisa diistilahkan sebuah kebebasan yang terkontrol tentang keragaman teks . . . .Dari tahap transmisi manuskripnya yang paling awal, teks Perjanjian Lama memang dikenal dalam sebuah keragaman tradisi yang berbeda satu sama lain sampai pada kadar yang beragam pula. Jadi, sementara Cross berpendapat bahwa setiap pusat centre menentukan bentuk teksnya masing-masing, Talmon berargumen bahwa keberagaman ini tidak disebabkan karena pusat-pusat yang berbeda, akan tetapi karena para penghimpun dan juru tulis teks-teks itu sendiri yang sejak semula memang menggunakan sedikit kebebasan dalam hal bagaimana mereka membentuk ulang teks itu. Apa pun jawabannya, wujudnya bentuk-bentuk teks yang berbeda tidak mungkin dimungkiri”. Solihin at. all., 2005 269-270. Dalam konteks ini Al Qur’an, Surat An Nisa’ ayat 46 telah menyatakan “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata “Kami mendengar,” tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan mereka mengatakan pula “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan mereka mengatakan “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. Depag., 2003 126. Demikian juga di dalam Surat Al Maidah ayat 41 dinyatakan “. . . Orang-orang Yahudi itu amat suka mendengar berita-berita bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan Taurat dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan “Jika diberikan ini yang sudah dirubah-rubah oleh mereka kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah” . . . Depag., 2003 166. Dengan demikian informasi Al Qur’an tentang ketidakaslian Al Kitab, termasuk di dalamnya Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama, sesuai dengan hasil penelitian ilmiah modern yang menyimpulkan bahwa dalam proses penulisannya Kitab Taurat mengalami banyak perubahan. Analisis terhadap penulisan Empat Injil Menurut Boismard ada empat dokumen yang menjadi sumber penulisan Empat Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yahya yang ada sekarang ini. Untuk memudahkan keempat sumber tersebut diberi nama dokumenr A, B, C dan Q. Dokumen A merupakan sumber yang berasal dari lingkungan Yahudi Kristen. Dokumen ini memberi inspirasi pada Matius dan Markus dalam menulis Injilnya. Dokumen B merupakan interpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen Kafir-Kristen. Dokumen ini menjadi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya dalam menulis Injilnya. Hanya Matius yang tidak mengambilnya sebagai insprasi penulisan Injilnya. Dokumen C memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya. Akhirnya dokumen Q merupakan bagian besar dari sumber bersama yang digunakan oleh Matius dan Lukas dalam menulis Injilnya. Di antara 4 macam dokumen tersebut di atas tidak ada yang menjadi teks definitive yang dimiliki sekarang. Di antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-redaksi antara yang dinamakan Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara tersebut akhirnya menjadi Injil yang empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dari satu Injil. Berdasarkan pendapat Boismard tersebut di atas jelaslah bahwa Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya yang ada sekarang ini tidak asli dari kata-kata atau perbuatan-perbuatan Yesus sendiri yang didengar, dilihat secara langsung oleh Matius, Markus, Lukas dan Yahya yang kemudian ditulisnya. Injil yang ada sekarang ini berasal dari empat dokumen A, B, C dan Q. Injil Matius ditulis berdasarkan inspirasi dokumen A, dan Q. Injil Markus ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumen A, B, dan C. Injil Lukas ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumen B, C dan Q. Akhirnya Injil Yahya ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumrn B dan C. Selanjutnya sebelum menjadi Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya yang sekarang ini atau yang difinif, ternyata melalui tulisan Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya yang bersifat “sementara” yang disebut dengan istilah Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Tentu saja proses penulisan dari dokumen-dokumen A, B, C, dan Q menjadi “Injil sementara” terjadi banyak perubahan. Akhirnya proses dari “Injil sementara” Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas, dan Proto Yahya menjadi Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yahya yang ada sekarang ini atau yang “difinitif,” terjadi lagi perubahan-perubahan. Ringkasnya proses sejak dari empat dokumen A, B, C, dan Q menjadi “Injil sementara” Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas, dan Proto Yahya, kemudian menjadi Injil yang sekarang ini atau yang “definitif” Matius, Markus, Lukas, dan Yahya, telah terjadi banyak sekali perubahan. Dengan kata lain Injil yang ada sekarang ini sudah tidak asli lagi. Dalam hal ini Dr. Maurice Bucaille menyatakan bahwa dengan membaca Injil pembaca sama sekali tidak yakin bahwa pembaca telah membaca kata-kata Yesus. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi konpensasi bahwa jika pembaca tidak dapat mendengarkan suara langsung dari Yesus, paling tidak ia telah mendengar suara gereja Rasjidi, 1979 123. Beberapa perubahan yang melibatkan banyak tangan manusia di dalam penulisan Empat Injil ini telah diinformasikan di dalam Surat Al Baqarah ayat 79 sebagai berikut “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya “Ini dari Allah,” dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan”. Depag., 2003 23. Dengan demikian informasi Al Qur’an tentang ketidakaslian Al Kitab, termasuk di dalamnya Empat Injil di dalam Perjanjian Baru, sesuai dengan hasil penelitian ilmiah modern yang menyimpulkan bahwa dalam proses penulisannya Empat Injil telah mengalami banyak perubahan. KESIMPULAN Kitab Taurat tidak asli lagi, sebab tidak ditulis dari satu sumber saja, tetapi dari empat sumber Yahwist, Elohist, Deuteronomis, dan Priester, ditulis oleh banyak penulis para imam dan penulis-penulis lainnya dari rentang waktu yang lama antara tahun 900 SM sampai dengan 500 SM dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacammacam Israel, Yehuda, dan Babilonia. Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber tadi dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat. Proses penulisan dari empat sumber tadi sampai ditulis oleh seorang penulis akhir menjadi Kitab Taurat telah terjadi banyak perubahan. Sedangkan Empat Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yahya tidak asli lagi, sebab proses penulisannya sejak dari empat dokumen A, B, C, dan Q menjadi Injil sementara Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya sampai menjadi Injil yang sekarang ini atau yang definitif Matius, Markus, Lukas dan Yahya telah terjadi banyak perubahan. DAFTAR PUSTAKA Al Qur’an dan Terjemahnya. 2003. Jakarta 1975. Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru. Jakarta BPK Gunung Alkitab Indonesia. 1983. Alkitab. Jakarta Lembaga Alkitab ed.. 1988. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta PT. BPK Gunung M trans.. 1979. Bibel, Qur’an dan Sains Modern. Jakarta Penerbit Bulan Miriam. 1981. Bibliologi Pengantar Alkitab Reviced. Malang Seminari Alkitab Asia Tenggara Sohirin. at. all. trans.. 2005. Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jakarta Gema Insani Karel A. 1987. Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern. Yogyakarta IAIN Sunan Kalijaga Ola. Introduksi Perjanjian Baru. Malang Departemen Literatur YPPII. Yayasan Penerbit Gandum Mas trans.. 2001. Pengantar Perjanjian Baru. Malang Yayasan Penerbit Gandum Mas. Sumber Ishraqi, Vol. IV Nomor 1, Januari-Juni 2008 hlm 41-55
鹿鹿 鹿 **Doa Rosario Mengalami Perubahan dari Waktu ke Waktu** Doa Rosario adalah salah satu doa yang paling populer bagi umat Katolik. Seperti banyak devosi lainnya, Rosario juga telah
Taurat berisi mengenai lima kitab pertama dalam Alkitab. ولقد آتينا موسى وهارون الفرقان وضياء. Mengapa Kitab Injil Dan Taurat Mengalami Perubahan Tulisan Bahkan saya kaget bagaimana serius Al Quran mengemukakan Al kitab injil dan taurat mengalami perubahan. Nabi Musa As. Maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang. Kitab Injil yang sekarang memuat tulisan dan catatan perihal kehidupan atau sejarah hidup Nabi Isa as. Firman Allah dalam Kitab Suci Injil mengatakan Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu Injil Rasul Lukas 2133. LALU KENAPA PENGIKUTNYA TIDAK. Jadi yang mengalami perubahan adalah bahasanya dan bukan isinya. Apakah hal ini tidak membuat keempatnya rentan memuat kesalahan dan menimbulkan kontradiksi bahwa kitab ini ditulis oleh manusia bukan oleh Allah. Apa yang saya temukan yang ternyata mengejutkan adalah bahwa semangat tentang keraguan Alkitab meskipun begitu umumnya hari ini saya tidak menemukannya di Al Quran. Dalam beberapa bagian dikatakan bahwa Al-Quran telah diturunkan untuk mengkonfirmasikan yang sebelumnya yang berarti Kitab Taurat dan Injil. Masing-masing dari kitab tersebut tentu saja memiliki penerima yang berbeda. Dengan demikian menyatakan bahwa Injil mengalami perubahan telah gugur dengan sendirinya. Kitab-kitab Allah dan Rasul penerimanya - Didalam agama islam terdapat 4 kitab Allah yang telah diturunkan kepada para Rasul-Nya yang wajib kita ketahui diantaranya yaitu ada kitab taurat kitab zabur kitab injil dan terakhir adalah kitab Al-Quran. Tepatnya bagaimana anda mengucapkan Torah versi bahasa Indonesia. Kitab Taurat Dan Injil Menjelaskan Nabi Musa Dan Isa Berkhitan Nabi Ibrahim dan begitu juga Yakub mewasiatkan kepada anak-an. Menerima Injil pada hari ke-12 atau ke-13 bulan RamadhanAllah Swt. Yang merupakan kitab Yahudi dan Kristen kecuali beberapa kesalahan yang dianggap sebagai kebenaran Arberry The Koran Interpreted halaman xi. Menerima Taurat pada hari ke-6 bulan Ramadhan Nabi Isa As. Al-Quran menyebut Zabur Mazmur sebagai tulisan sedangkan Taurat Torah dan Injil Bible sebagai Al kitab. Sebenarnya jawabannya adalah pada Kitab yang kita pegang hari ini baik Taurat Injil sekarang Bible dan Al-Quran. Merriam-Webster Dictionary mengucapkannya sebagai TOR-ah dengan sebuah o yang panjang penggunaan huruf hidup tanpa penekanan pada a dan aksen pada suku kata pertama. Dia harus beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitabnya kepada para nabi dan menurunkan shuhuf yang di dalamnya terdapat perintah dan larangan nasehat dan pengingat dan berita tentang perkara yang lalu serta berita tentang surga dan neraka dan. Taurat Injil dan Zabur berasal dari Allah. Taurat dan apakah artinya. Allah Taala juga telah memberitahukan bahwa di dalam kitab terdapat cahaya penerangan serta petunjuk yang baik malah Dia puji pula dengan firman-Nya. Menyanjung bulan Ramadhan diatas bulan-bulan yang lain yaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana kesemua kitab-kitab. Perubahan taurat Beriman kepada kitab suci Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS adalah merupakan salah satu rukun keimanan. Sebab yang berbeda pada Alkitab adalah terjemahan bukan teks dalam bahasa aslinya. Suatu isyarat dari Allah SWT bahwa Zabur Taurat dan Injil yang masing-masing diturunkan kepada Nabi Daud Alaihissalam Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Isa Alaihissalam berbentuk tulisan kitab atau yang menyerupainya. Pertanyaan Mengenai Alkitab pada Taurat. Kadang saya ditanya kalau hanya ada satu Injil dalam Kitab Suci Nasrani mengapa Injil itu tersusun atas empat kitab dan ditulis oleh empat penulis. Taurat dan Injil yang ada sekarang sudah berubah dan bercampur. Tentang hal tersebut Kitab Suci Nasrani berkata. Mungkin kita pernah berfikir mengapa Zabur Taurat dan Injil tidak dijaga oleh ALLAH Taala sehingga ALLAH Taala harus menurunkan Al-Quran. Untuk umat dan zaman sekarang sudah ada kitab terakhir yaitu Al Quran yang diturunkan kepada Nabi terakhir penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad. Hai Ahli Kitab kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat Injil dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Setiap muslim harus beriman bahwa kitab-kitab tersebut. Sebagai catatan kecil kitab Allah diturunkan untuk RasulNya pada zaman nya dan umat nya masing masing Taurat dan Injil di turunkan untuk Nabi Musa As dan Nabi Isa As untuk umatnya pada zaman itu. Kitab ini ditulis menurut versi penulisnya yaitu Matius Markus Lukas dan. Continue reading Mengapa. Kitab Injil dan Kitab Taurat yakni sudah mengalami perubahan dan penggantian yang dilakukan oleh tangan manusia. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu Muhammad dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka. Saya sudah membaca dan mempelajari baik Injil Al Kitab dan Al-Quran dan sudah mulai mempelajari Sunnah. Injil sekarang Bible seperti yang ada dewasa ini banyak sekali jenisnya. Berikut ialah apa yang saya temui tentang hal2 di atas. Lagi pula saudara tidak akan dapat membuktikan tentang perubahan apa saja yang terdapat dalam Alkitab mengapa diubah siapa yang mengubah dan kapan diubah. Kesimpulannya berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan bukti-bukti lain menetapkan adanya perubahan dalam taurat dan injil maka menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk meyakini bahwa Taurat dan Injil yang ada saat ini tidak lagi murni berisi firman-firman Allah azza wa jalla. Mengapa Kitab Injil Dan Taurat Mengalami Perubahan Tulisan Mengapa Kitab Injil Dan Taurat Mengalami Perubahan Brainly Co Id Mengapa Kitab Injil Dan Taurat Mengalami Perubahan Tulisan Sejarah Dan Isi Perjanjian Baru Yayasan Baitul Maqdis Pai Kelas 5 Beriman Kepada Kitab Allah 04 09 2020 Quizizz Autentisitas Al Qur An Pengantar Kajian Perbandingan Dengan Taurat Dan Injil Kelas Xi Semester 1 Bab I Iman Kepada Mengenal Kitab Kitab Allah Dan Para Rasul Yang Menerimanya Kumparan Com Mengapa Kitab Injil Dan Taurat Mengalami Perubahan Tulisan Sedangkandalam kitab zabur berisi 150 nyanyian yang langsung disenandungkan oleh nabi dawud as. Kitab zabur merupakan ajaran yang memiliki 5 nyanyian antara lain : 1. Nyanyian kebaktian kepada tuhan. 2. Nyanyian seseorang untuk memuji tuhan dan mengucapkan rasa syukur. 3. Beberapa ratapan jama'ah. 4.
Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan pada Taurat, Injil, Zabur, sesuatu yang sebanding dengan Al-Fatihah." Imam Tarmizi menjelaskan bahwa Al-Fatihah adalah induk kitab (Ummul-Kitab) sebab ia merupakan intisari Alquran. Surat ini juga bahkan kerap disebutkan sebagai Alquran yang agung itu sendiri.
.
  • 356sy2ot6u.pages.dev/204
  • 356sy2ot6u.pages.dev/151
  • 356sy2ot6u.pages.dev/467
  • 356sy2ot6u.pages.dev/296
  • 356sy2ot6u.pages.dev/428
  • 356sy2ot6u.pages.dev/416
  • 356sy2ot6u.pages.dev/99
  • 356sy2ot6u.pages.dev/490
  • mengapa kitab injil dan taurat mengalami perubahan